Minggu, 29 November 2009

Kyara.., tersenyumlah slalu...

Kyara…
nama yang begitu indah…
Matamu...tawamu...begitu mempesona...
Namun,...di balik cantik parasmu,
ada derita yang menoreh hidupmu...

Leukemia.. sebuah penyakit yang tak pernah kau inginkan..
Namun ia datang menghinggapi dirimu
di usiamu, yang bahkan belum mencapai 1 tahun...

Kyara...
Kuatkan hatimu...terus berikan senyummu,
pada ayah ibumu...
agar mereka tidak pernah patah semangat
’tuk merawatmu...membuatmu pulih dari deritamu..

Kyara...
Biarkan kami juga membuatmu bahagia dan slalu tersenyum..
Walau kau belum dapat mengerti,
akan smua yang terjadi pada hidupmu..
Biarlah kelak, yang kau tau hanyalah kau dalam keadaan sehat dan baik-baik slalu
Kyara, hanyalah seorang anak diantara +/-7 anak lainnya yang menderita kanker. Mereka sedang menjalani pengobatan untuk kesembuhan dirinya. Saat ini, mereka tinggal di Rumah Kita, yang terletak di Jl. Percetakan Negara, sebuah rumah singgah yang diperuntukkan bagi mereka (anak–penderita dan orang tuanya), yang perlu singgah atau menginap untuk beberapa waktu, selama anak mereka dalam masa pengobatan/ perawatan Rumah Sakit.
Saat ini, di Rumah Kita, terdapat +/- 8 orang anak penderita kanker. Ada Ando & Tika (penderita kanker mata), ada Kyara dan Dhea (penderita leukemia) dan beberapa anak lainnya. Mereka berasal dari berbagai daerah (Jakarta, Banten, Lampung, Batam, dsb). Mereka nampak akrab sekali, sudah seperti saudara dan sahabat. Seperti anak kebanyakan, mereka bermain, bercanda akrab satu sama lain.


Namun...di balik keceriaan Ando, Tika, Dhea dan anak-anak lainnya disana, terdapat derita dan sakit, yang harus mereka tanggung. Sedih, bingung terkadang putus asa dirasakan oleh para orang tua, yang harus terus menjaga, merawat anaknya dengan sangat baik. Dan terkadang harus mencari tambahan uang, kala anak mereka memerlukan obat yang sangat mahal harganya sementara tidak ada yang dapat menanggungnya. Hidup anak-anak penderita kanker disana sangat bergantung pada semangat hidup dari diri mereka sendiri..kasih sayang dan perhatian dari para orang tua dan orang-orang di sekitarnya.. dan juga bergantung pada obat-obatan dan perawatan dokter tentunya.

Adakah hati kita tergerak untuk membantu meringankan beban mereka..? setidaknya membuat mereka agar mempunyai semangat yang tak pernah putus dalam menjalani hidup ini..membuat mereka tersenyum bahagia..dan membuat mereka sembuh serta pulih dari segala sakit yang dideritanya..?

Mari kita bagikan berkat Tuhan yang kita peroleh, untuk adik-adik kecil kita, yang juga berhak untuk merasakan hidup sehat, dapat bersekolah, dapat bekerja, memperoleh kebahagiaan dan membahagiakan orang tuanya kelak...

Kami, The Cherish Club, rencananya akan mengadakan aksi sosial kami (ke-6) untuk adik-adik kami di Rumah Kita (Sabtu/ 19 Desember 2009). Bila teman-teman, ingin turut berpartisipasi (memberi sumbangan dana, barang atau tenaga), dapat bergabung dengan kami..

Adapun rencana bentuk donasi yang akan kami berikan (sesuai dengan dana yang terkumpul nanti) antara lain :
- Goodie Bag bagi anak-anak*) sesuai kebutuhan (pakaian, sandal/ sepatu, pampers, dsb) *) anak-anak yang berada di Rumah Kita dan beberapa anak penderita kanker lainnya
- Obat-obatan umum (minyak kayu putih, Betadine, dsb)
- Susu Dancow dan Milo (sesuai yang disarankan)
- Biskuit/ kue kering lainnya
- Gula, minyak goreng (beras tidak terlalu diperlukan karena persediaan masih banyak)
- Acara hiburan (mengundang badut/ sulap dsb)

Sekecil apapun hal baik yang kita lakukan kepada orang lain apalagi kepada orang yang membutuhkan, akan berarti besar bagi mereka. Dan percayalah bahwa kebaikan akan datang kembali kepada kita kelak..

Terima kasih.. Tuhan memberkati.

Bagi yang ingin berpartisipasi, dapat menghubungi kami di :
The Cherish Club

(Email)
indrawatiyeny@gmail.com
(Email)
d3551_saraswatycd@yahoo.com
(Email)
lyonathan@yahoo.com
(Email)
carla.carla@rbs.com

Senin, 19 Oktober 2009

Nah Ini Dia, Perlunya Ada Boss....

"Jualan kita hari ini lumayan ya..", kataku kepada suamiku selepas kami menutup toko handphone kami hari ini.
Yaah...pembeli toko handphone kami hari ini cukup bervariasi. Ada teman, langganan baru dan langganan yang sudah lama sekali tidak muncul, baru terlihat lagi hari ini.. bahkan ada konsumen yang tiba-tiba datang hanya sekedar membeli nomor perdana (tapi tiga nomor sekaligus...). Wah...senangnya..

Perbincangan ringan itu menjadi perbincangan yang cukup menarik perhatianku, hingga akhirnya aku menulisnya di blog-ku ini.

Kami baru saja memiliki seorang pegawai di toko handphone kami. Namun, pegawai kami kali ini agak berbeda dengan ”Lia” pegawai kami yang terdahulu (dapat baca kisahnya juga di blog aku sebelumnya, berjudul ”Bahasa Bukan Sekedar Bahasa"). Pegawai kami yang sekarang, sebut saja ”Isus”, memang cenderung kurang ramah dan luwes dalam melayani customer kami.

Namun, bukan hal itu yang menjadi topik utama perbincangan aku dan suamiku malam ini. Tiba-tiba saja (karena tidak biasanya suamiku menganalisa sesuatu hal), suamiku mengatakan hal ini kepadaku, ”Kebayang gak, kalau tadi kita pergi jalan-jalan ke Bogor atau kemana gitu, kira-kira apa bisa ya Isus jualan semua handphone seperti yang laku hari ini..?”
Sempat berpikir sejenak, lalu kujawab dengan ragu namun pasti, ”yaa..sepertinya tidak jualan sih..!”

Kalau kami (tepatnya ”aku”) tidak ada di toko hari ini, mungkin saja temanku tidak jadi membeli. Temanku ini baru saja seminggu lalu tahu bahwa aku punya toko handphone (tidak sengaja lewat di depan toko). Dia bukan teman dekat aku dan dia cenderung agak bawel (alias ”jago nawar”). Apakah dia akan membeli handphone ketika kami tidak ada ? nampaknya tidak semudah itu dia memutuskan untuk membeli di toko kami. Tapi akhirnya dia membeli dua handphone baru (Blackberry boo..), dan sekaligus menjual kedua handphonenya (puji Tuhan..). Kira-kira mengapa dia akhirnya jadi membeli handphone ? jawaban singkat (tanpa analisa lebih lanjut), karena kami ada di toko. Namun tidak hanya ada, tapi kami juga melayani mereka dengan baik.

Ada pula langganan lama suamiku. Dia datang, setelah kurang lebih setahun tidak nampak. Dia juga membawa dua handphone untuk dijual dan ditukar dengan handphone baru. Kalau suami aku tidak ada di toko hari ini, apa kira-kira dia akan menyerahkan handphone nya untuk dihargai pegawai kami? (walaupun pegawai kami sudah diberi kewenangan memutuskan harga, dan apabila mendesak, dia bisa saja menelepon kami untuk memutuskan). Tapi, apa cara seperti ini cukup nyaman untuk langganan kami? Bisa-bisa dia kabur ke toko lain, yang ada bos-nya, sehingga dapat menegosiasikan harga lebih leluasa. Untunglah, ada kami disana, dan akhirnya dia jadi menjual kedua handphone-nya kepada kami.

Kalau saja langganan kami tersebut tidak jadi menjual handphone-nya, maka penjualan berikutnya kepada sekelompok supir angkot (mereka yang mengakuinya sendiri lho.., hehe..lucu juga..ada supir mikrolet, supir metromini, supir kopaja), yaitu sebuah handphone mungil murah meriah tidak akan terjual kepada supir tersebut. Karena handphone ini adalah handphone second yang baru saja kami beli dari langganan kami yang datang sebelumnya.

Melanjutkan perbincangan kami seputar kejadian di toko handphone kami hari ini...
Jadi teringat, seorang ”engkoh” di Food Court Ambasador sebelah kantorku. ”Engkoh” itu adalah pemilik sebuah kios makanan yaitu masakan Jawa Timur. Dia terlihat selalu hadir di kios-nya bahkan turut melayani customer. Pertama, dia menawarkan menu, kemudian menjelaskan menu yang ada, bahkan terkadang dia yang mengantar sendiri makanan yang telah dipesan sampai ke meja customer. Padahal, soal rasa sih biasa saja.. tapi tempat makan itu menjadi cukup dikenal diantara kami, yah..karena ”engkoh” si pemilik sangat terlibat aktif dengan para customer-nya.

Contoh lain, dalam kehidupan kita sehari-hari di kantor. Seringkali kita kecewa karena ketika kita mengadakan meeting penting, undangan yang datang adalah bukan orang yang tepat, sehingga mungkin saja meeting jadi tidak berakhir dengan suatu keputusan. Dan biasanya yang dapat memberi keputusan, tidak lain adalah ”Boss” bukan..? Tapi sebaliknya, kita akan sangat senang dan merasa terhormat, ketika kita tidak berharap seorang ”Boss” datang menhadiri meeting kita, namun tiba-tiba dia datang untuk ikut berdiskusi. Hal itu dapat membuat kita menjadi lebih bersemangat dalam suasana meeting tersebut.

Wah...panjanglah ceritanya kalau mau didetailkan satu per satu. Tapi yang ingin aku sharingkan saat ini adalah ”ternyata keberadaan seorang Boss untuk turut melayani customer dan atau mendampingi pegawai dalam suatu aktifitas tertentu, sangat memberikan pengaruh positif bahkan dapat menentukan sukses atau tidaknya suatu kondisi”.

Jadi, kalau dapat aku simpulkan, apa perlunya keberadaan seorang Boss di setiap kondisi, baik di antara customer, pegawai dan bisnisnya ?
Keberadaan Boss akan :
1. Membuat customer percaya atau lebih yakin dengan harga/ keputusan yang diberikan kepadanya, karena diberikan langsung oleh si pemutus (yang berwenang memutus).

2. Membuat customer merasa lebih nyaman dalam bertransaksi, karena dia dengan leluasa dapat mengungkapkan hal-hal baik atau bahkan komplain-komplain, dan yakin bahwa apa yang diungkapkan telah disampaikan ke orang yang tepat. Sehingga apabila ada hal yang kurang baik, customer berharap akan cepat diperbaiki.
3. Membuat customer merasa dirinya dihargai dan dihormati karena dilayani langsung oleh pemiliknya (sebagai orang dengan level tertinggi di suatu unit tertentu – toko, divisi, unit kerja, perusahaan, dsb)

Jadi, kalau kita adalah seorang Boss.. dimanapun kita berada, pastikan bahwa kita senantiasa berada di tengah-tengah customer kita (untuk mengenal, mendekati dan melayani mereka), di tengah-tengah pegawai kita (untuk menularkan hal-hal baik yang kita miliki, memantau hasil kerja mereka dengan pendekatan personal), di tengah-tengah bisnis kita (agar senantiasa dapat memahami dan mengembangkan bisnis dengan lebih teliti dan cermat).

Minggu, 11 Oktober 2009

Thalassaemia..oh Thalassaemia (part_1)

Thalassaemia… mendengar namanya pun mungkin hampir tak pernah… hanya samar terdengar, namun berlalu begitu saja… Sampai pada suatu waktu, aku mengetahuinya..aku melihatnya dan aku merasakannya.. merasakan kesakitan mereka..merasakan kepedihan mereka..namun masih ada butir-butir harapan kulihat dari setiap tatapan matanya..
Thalassaemia…yah..ternyata, nama itu adalah sebuah nama penyakit yang dapat mematikan..sungguh mematikan..

Apakah Thalassaemia itu ?
Thalassaemia adalah suatu kelainan darah yang terdapat di banyak negara di dunia, khususnya pada orang-orang yang berasal dari daerah Laut Tengah, Timur Tengah atau Asia. Singkatnya, terdapat dua jenis Thalassaemia yaitu Thalassaemia trait/ pembawa sifat Thalassaemia dan Thalassaemia mayor. Yang sungguh menyedihkan adalah mereka yang menderita Thalassaemia mayor, yang diderita sejak lahir, dimana tubuh mereka tidak dapat membentuk Haemoglobin yang cukup dalam darah mereka, sehingga memerlukan transfusi darah seumur hidupnya.

Ironisnya, transfusi darah yang dilakukan pun belum mampu membuat mereka sembuh dan menghilangkan penyakit tersebut, bahkan pada satu masa tertentu, karena terjadi penumpukkan sejumlah zat besi yang berlebihan dalam tubuh, justru dapat menimbulkan penyakit lainnya seperti jantung, hati, pankreas dll. Inilah yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian. (info lebih detail mengenai Thalassaemia serta pencegahannya dapat dibaca di
www.thalassaemia-yti.or.id atau sumber-sumber lainnya di internet).

Pada suatu waktu, kebetulan aku dan seorang teman berkesempatan untuk mengunjungi sebuah yayasan, khusus bagi para penderita Thalassaemia yaitu Yayasan Thalassaemia Indonesia, yang berlokasi di RS. Cipto Mangunkusumo (sebut saja “rumah singgah”). Sempat beberapa waktu kami mengundur kedatangan kami ke yayasan itu, sampai akhirnya dapatlah kami datang untuk bertemu dengan pihak pengelola yayasan.

Ternyata kami dipertemukan langsung dengan ketua/ pendiri yayasan tersebut yaitu Bapak Ruswandi. Wow.. senangnya.. , walaupun kami sempat menunggu beberapa saat sebelum bertemu dengannya dikarenakan beliau masih meeting internal.. namun kami menunggu dengan sabar dan senang hati..

Tak berapa lama pun, kami disapa oleh seorang wanita tepatnya seorang ibu, yang tidak lain adalah istri dari Bapak Ruswandi yaitu Ibu Watty Ruswandi, dan terakhir kami tahu bahwa beliau lebih dikenal dengan sebutan “Bunda”. Yah..mungkin karena kedekatan beliau dengan orang-orang di sekitarnya..khususnya mereka para penderita Thalassaemia, yang sudah menjadikan “rumah singgah” di rumah sakit tersebut pun sebagai rumah kedua bagi mereka.

Begitu selesai berkenalan dan berbincang-bincang sejenak, kami langsung dibawanya untuk mengunjungi sebuah kamar, kamar pasien katanya.. Ketika kami masuk ke kamar tersebut, kami seperti tidak melihat sebuah kamar pasien.. mungkin lebih tepatnya seperti sebuah kamar di rumah sakit darurat (seperti di tempat pengungsian, namun masih lebih baik, karena kondisinya cukup terang, bersih dan ber-AC). Begitu banyak ranjang berjajar disana, dengan begitu banyak anak-anak dan remaja berbaring di setiap ranjangnya (ada satu ranjang yang terisi dua atau tiga orang), dengan tangan yang tersuntik jarum transfusi, serta kantong-kantong darah yang menggantung di setiap sisi ranjang mereka. Yah..di kamar itulah, mereka men”charge” nyawa mereka, mengisi tubuh mereka dengan darah yang tak bisa mereka hasilkan sendiri melalui tubuhnya.

Ibu Ruswandi membawa kami melihat satu per satu pasien disana.. sebagian dari mereka nampak sehat, namun sebagian lainnya nampak lemah. Sesekali Bunda menyapa pasien-pasiennya dengan obrolan ringan namun penuh dengan kalimat ”penyemangat”.. yah..karena semangat untuk hiduplah yang harus mereka miliki dalam kondisi seperti itu.

Sempat aku terdiam dan terpaku kala aku melihat ada seorang ibu dengan anaknya laki-laki (cakep sekali anak itu.. dia putih..bersih..rambutnya pun indah). Ya...tentu saja ibu itu datang untuk menemani anaknya transfusi darah.
Sempat Bunda menyapa ibu tersebut, ”Baru datang Bu..? sudah dapat tempat belum..?”
”Ini lagi nyari tempat..wah sepertinya penuh ya..”.
Sembari Bunda melihat sekeliling, barangkali sudah ada yang selesai transfusi, sehingga ranjang-nya dapat dipakai oleh anak ibu itu, tak sengaja kami melihat barang bawaan si ibu. Selain tas yang dibawanya, ibu itu juga menjinjing sebuah plastik bening berisi jarum suntik dan beberapa peralatan kecil lain (tak begitu jelas terlihat). Melihat itu, aku dan temanku saling bertatapan.. , seakan kami ingin mengatakan hal yang sama.. ”sepertinya... inilah belanjaan para ibu ketika di kamar ini....bukan sayur mayur, bukan daging, bukan pula pakaian atau sepatu..seperti belanjaan ibu-ibu pada umumnya, namun seperangkat alat medis, ya...berbagai peralatan untuk keperluan transfusi darah”.

Tak berapa lama, kami pun keluar dari kamar itu.. Duduk sebentar di ruang tunggu, karena masih menunggu Bapak Ruswandi yang baru saja makan siang. Berbeda dari saat kami datang, yang masih penuh semangat..., namun setelah keluar dari kamar itu, kami merasa lemas..seakan tak ada tenaga lagi..kembali kami saling menatap..tanpa kata-kata, dan terlihat ada bulir-bulir air menyelimuti selaput mata kami..namun kami menjaga agar air mata kami tidak sampai jatuh ke pipi.

Yaah..kami tak kuat melihat pemandangan seperti itu.. tapi ini kenyataan, sungguh suatu kenyataan.. Ternyata ada kehidupan lain di luar sana yang mungkin tak kita ketahui dan pikirkan selama ini. Kalau selama ini kita sudah sangat merasa menderita dengan penyakit flu, demam, cacar, anemia, mungkin itu belum seberapa dibandingkan penderitaan yang dialami oleh mereka para penderita Thalassaemia.

Thalassaemia..oh Thalassaemia (part_2)

Kurang lebih 5 menit kami menunggu, akhirnya kami bertemu dengan Bapak Ruswandi di ruang meeting. Disana ada Bapak dan Ibu Ruswandi, dua orang ibu dan seorang anak muda sebagai anggota pengurus. Ternyata anak muda itu adalah juga penderita Thalassaemia. Walaupun dia sakit, terbukti bahwa penyakit tersebut tak membuatnya lemah, justru dia dapat berkarya melalui kontribusinya di yayasan tersebut.

”Kondisi dimana setiap saat ada saja penderita yang meninggal, sudah menjadi hal yang biasa bagi kami disini. Bahkan terkadang di antara mereka sering saling bertanya (dengan canda), siapakah yang akan meninggal lebih dulu..”, begitu diungkapkan Ibu Ruswandi. Mendengar perkataan itu, aku merinding.. bagaimana tidak..? kematian yang begitu ditakutkan oleh kebanyakan orang, menjadi hal yang biasa bagi mereka. Bahkan mereka sudah siap untuk menantikan kematian itu.

Kami terpana mendengar berbagai kisah yang diceritakan Bapak dan Ibu Ruswandi. Indonesia sungguh beruntung mempunyai orang-orang seperti mereka, yang begitu peduli dengan penderitaan orang-orang lain dan membantu meringankan penderitaan yang mereka alami. Dan, kami pun terpanggil untuk membantu mereka. Walaupun kami belum tahu apa yang akan kami berikan untuk meringankan beban mereka secara lahir batin.. dan walaupun panjang umur merupakan mujizat yang mungkin saja ada (harus kami amini), namun kami sungguh ingin memberikan yang terbaik bagi mereka, karena mereka juga berhak mendapatkan kebahagiaan di semasa hidupnya..

Dan melalui tulisan ini, adakah sahabat-sahabatku tergugah hatinya untuk membantu mereka..? Tidak ada yang lebih indah, daripada ketika hidup kita dapat menghidupkan orang lain yang membutuhkan..

Setetes Darah Berarti Buat Kami
Karya : Diah Rahayu Utami
(Penderita Thalassaemia yang meninggal 29-08-1990 usia 25 tahun)

Terlahir ke dunia...
Di antara berjuta-juta manusia,
Ada kebanggaan...kesedihan...harapan...
Kejenuhan... juga ketegaran...
Satu-satu.. berlalu....,
Berbaur dalam garis kehidupan...
Anugerah Yang Maha Kuasa.

Detak jantung berdegap
Menggerakkan denyut-denyut nadi,
Berpacu....melawan hidup..menentang maut
Suatu cobaan telah kuterima
Beban yang berkepanjangan..
.... Belum selesai...
Namun singkat namanya Thalassaemia
Denting jam berdetak...
Menyita hari-hari hidupku...

Di pembaringan... di jalanan...
Di tengah kesibukan....

Yang setiap saat kubutuhkan,...
Kukuatkan jiwa dan raga,
Lewat kesetiaan jarum-jarum kebajikan,
Yang bersiratkan merah darah...
Setetes darah orang-orang bijak,

Selama ini aku berangan-angan..
Ada suatu yang dapat menaklukkan...
Beban yang melekat di pundakku,
Namun, selama ini pula,
Belum nyata datang.. belum nyata,
Yang ada hanya harapan
Yang tak pernah menyajikan apa-apa,

Diantara FirmanMu Ya Tuhanku,
Kukembalikan daku,
Bahwa aku adalah milikmu..
Dan kuyakini FirmanMu, bahwa...
Dari Engkaulah beban yang ada di pundakku,
Dan dari Engkau jualah mujizat yang kudambakan

Kepada dunia..
Lihatlah mereka, saudaraku...
Penderita Thalassaemia
Mereka butuh ketegaran dan tetesan darah
”Setetes Darah Sangat Berarti Buat Kami”

Kepada sahabatku...saudaraku...
Mari...marilah...
Jalurkan tangan terbuka dengan muka tengadah,
Bacalah...ya Tuhan kami...
Jangan Engkau pikulkan beban yang berat..
Yang tak sanggup kami memikulnya...

Maafkanlah kami,
Ampuni kami... dan
Rahmati kami, Engkau penolong kami.

Hilangkanlah ketakutan kami..
Wahai Tuhannya manusia. Sembuhkan penyakit kami,
Engkau Maha Penyembuh,
Tiada kesembuhan melainkan...
KesembuhanMu... ya Tuhanku
KesembuhanMu yang tidak..
Meninggalkan penyakit.
Amin

Senin, 14 September 2009

Indahnya Berbagi di Bulan Ramadhan..

“Ayo… baksos yook… udah mau masuk bulan Ramadhan lho.. rencananya kan awal bulan September kita udah baksos lagi… Nanti keburu Lebaran… ga keburu deh… “

Yah.. sudah saatnya kami melakukan kegiatan baksos lagi, yang saat ini sudah kali ke-5 sejak kami melakukannya di bulan Mei 2008 yang lalu. Namun lagi-lagi kesibukan kami sehari-hari sempat membuat kami melupakannya.. Untungnya kami segera tersadar dan terpanggil untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Setelah mendapatkan informasi alternatif tempat tujuan baksos dan survey ke lokasi, maka kami menetapkan tujuan baksos ke-5 kami yaitu ke Panti Asuhan Al Anwar, yang berlokasi di Jl. Pondok Jaya RT 05 Rw 02 - Bintaro, yang beranggotakan 25 anak yatim piatu (SMP dan SMA). Dan artinya.., kami harus segera mengumpulkan sumbangan bagi ke-25 adik-adik kami di panti tersebut.

Sempat muncul keraguan dan kekuatiran kami bahwa sumbangan yang akan terkumpul saat ini mungkin akan kurang memadai. Selain karena waktu pengumpulan sumbangan yang mepet (tidak sampai dua minggu), juga mungkin saja sebagian orang sudah mengalokasikan sumbangannya untuk tujuan yang lain, mengingat saat ini dalam bulan ramadhan (bulannya orang lebih banyak beramal) dan baru-baru ini terjadi bencana gempa di Jawa Barat.

Namun, tekad dan semangat kami tidak kendur, malah makin tertantang untuk dapat melakukan dan memberikan yang terbaik bagi mereka, anak-anak panti yang walaupun hidup seadanya namun tetap bersemangat menjalani hidupnya.

Waktu sudah semakin dekat, kira-kira kurang dari 8 hari lagi dari rencana kami pergi ke Panti Asuhan tersebut, namun dana dan barang yang terkumpul masih relatif sedikit, sehingga kami pun belum berani mengandai-andai bentuk sumbangan seperti apa yang akan kami berikan ke panti tersebut.

Lalu kami memutuskan bahwa pada H-3, berapapun dana yang terkumpul, akan kami belanjakan sesuai kebutuhan panti tersebut. Dan akhirnya..., alhamdulilah puji Tuhan, dana yang terkumpul terus bertambah..(bahkan sampai kami selesai belanja di hari terakhir pun, masih ada partisipan yang menyumbangkan sebagian rejekinya untuk berbagi).

Pada H-2 hingga H-1 kami masih terus belanja untuk sumbangan kami.. maklum kami harus berbagi waktu dengan tugas pekerjaan kami di kantor, sehingga kami hanya dapat belanja di waktu istirahat dan pulang kantor saja. Untungnya, kami melakukannya dengan sukacita, semangat dan saling mendukung satu sama lain. Membawa berkilo-kilo beras, berliter-liter minyak goreng, berlusin-lusin mukena dan baju koko, berdus-dus susu, dari tempat belanja ke kantor (basecamp) kami... walaupun berat namun terasa ringan ketika kami melakukannya bersama-sama...

Rupanya kendala tak cukup sampai di pengumpulan sumbangan saja, kendaraan untuk mengangkut barang-barang sumbangan ke lokasi pun sempat menjadi kendala bagi kami. Mobil yang tersedia hanya satu (milik seorang sahabat kami), sedangkan kami butuh minimal satu mobil lagi. Namun kami tak menjadi surut semangat hanya karena masalah mobil, ”kurang mobil..? taxi pun jadi lah.. J”

Cukuplah sudah persiapan kami dan kami siap berangkat ke Panti Asuhan Al Anwar..

Sabtu, 12 September 2009

Pagi itu, pkl. 09.00 pagi, waktu yang kami sepakati untuk berkumpul di OCBC NISP Tower – Casablanca. Kami segera membereskan barang-barang yang akan kami bawa ke panti untuk dimasukkan ke mobil. Sekitar pkl. 09.45, kami pun sudah melaju ke lokasi...
Uuugghh...namun jalanan macet dimana-mana, sehingga kami agak terlambat tiba di panti (seperti yang kami janjikan sebelumnya). Namun tak menjadi masalah, karena kami memang tidak ada rencana kegiatan atau acara khusus di baksos kali ini. Hanya sekedar bertemu pengurus panti, menyerahkan sumbangan dan bila sempat, bertemu dengan beberapa anak panti yang sudah pulang sekolah.

Setibanya di panti, kami disambut baik oleh pengurus panti, Bp. Haji Salim, Mba Etty dan seorang pengurus lainnya. Kami pun berbincang-bincang dengan mereka, sempat menanyakan suka duka mereka selama mengelola panti (sejak panti berdiri pada tahun 1992 dan mulai aktif pada tahun 1995), dan ternyata anak-anak panti sudah banyak juga yang mandiri (selepas dari pendidikan SMA). Dan akhirnya kami menyampaikan sumbangan kami yang seadanya dan berharap agar apa yang kami berikan dapat bermanfaat bagi anak-anak dan bagi panti juga.

Kami sempat bertemu dengan beberapa anak yang sudah kembali dari sekolah.. Senangnya dapat bertemu juga dengan mereka.... Kami semua berkumpul di aula dan telah nampak beberapa anak duduk rapi mengenakan mukena dan baju koko...mmm... anak-anak itu nampak soleh dan soleha sekali..(memberikan salam dengan mencium tangan kami – haru sekali rasanya..), bicaranya pun santun.. selain itu.. mereka cantik-cantik, ganteng-ganteng dan rapi pula...

Kami menyampaikan harapan kami dari apa yang kami bawa dan berikan kepada mereka. Sembako yang seadanya mudah-mudahan cukup memadai sampai dengan persiapan berhari raya, mukena dan baju koko sederhana dapat mereka kenakan saat berlebaran, dan yang tak kalah penting, kami memberikan pula lemari buku kecil dan juga buku-bukunya, sebagi investasi awal perpustakaan kecil mereka (menurut informasi, rencananya pengurus panti akan membuat perpustakaan).

Buku-buku yang kami berikan, selain sebagai ilmu tambahan pengetahuan sekolah (buku-buku pengenalan dasar komputer), sebagai penunjang keterampilan mereka (buku-buku kreasi masakan, menjahit dsb), juga sebagai penunjang motivasi hidup (buku-buku ajaran islami dan kisah nyata perjuangan seorang dalam meraih sukses).

Mereka nampak senang sekali menerima pemberian dari kami. Wajah dan senyum bahagia mereka bagaikan air yang menyejukkan hati kami yang dahaga.. Kami bahagia bila mereka bahagia...

Sebelum mengakhiri pertemuan kami, kami sempat berkeliling melihat kamar tidur anak-anak. Mmmm...tempat yang cukup luas namun dengan perabotan benar-benar seadanya.. Tempat tidur dengan kayu yang mulai rapuh dan beralas kasur tipis tanpa sprei, lemari pakaian yang nampak kusam dan sudah kurang menampung pakaian mereka.

Namun kami salut dengan pendidikan yang diberikan panti kepada anak-anak, membentuk mereka menjadi pribadi yang disiplin (dengan jadwal piket) dan norma kesantunan (dengan aturan/ batasan-batasan tertentu yang diberlakukan bagi mereka).

Pertemuan kami yang singkat itu kami akhiri dengan foto bersama, sebagai kenang-kenangan kami.. bahwa kami pernah bersamanya.. dan untuk mengingatkan kami bahwa mereka masih ada untuk kami ingat, kami kunjungi dan kami bantu di lain kesempatan.

Selamat tinggal cantik.. selamat tinggal ganteng.. semoga hati dan jiwa kalian tetap secantik dan seganteng parasmu.. yang akan membawamu ke masa depan yang lebih baik.

Senin, 17 Agustus 2009

Bersyukur dan Bahagia...

Terima kasih untuk sahabatku “Yenny Gunawan” yang telah mengirimkan email tentang kisah berikut ini untuk kita renungkan bersama :

Alkisah, ada seorang pedagang kaya yang merasa dirinya tidak bahagia. Dari pagi-pagi buta, dia telah bangun dan mulai bekerja. Siang hari bertemu dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang. Hingga malam hari, dia masih sibuk dengan buku catatan dan mesin hitungnya. Menjelang tidur, dia masih memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya. Begitu hari-hari berlalu.

Suatu pagi sehabis mandi, saat berkaca, tiba-tiba dia kaget saat menyadari rambutnya mulai menipis dan berwarna abu-abu. "Akh. Aku sudah menua. Setiap hari aku bekerja, telah menghasilkan kekayaan begitu besar! Tetapi kenapa aku tidak bahagia? Ke mana saja aku selama ini?"
Setelah menimbang, si pedagang memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kesibukannya dan melihat kehidupan di luar sana . Dia berpakaian layaknya rakyat biasa dan membaur ke tempat keramaian.
"Duh, hidup begitu susah, begitu tidak adil! Kita telah bekerja dari pagi hingga sore, tetapi tetap saja miskin dan kurang," terdengar sebagian penduduk berkeluh kesah.
Di tempat lain, dia mendengar seorang saudagar kaya; walaupun harta berkecukupan, tetapi tampak sedang sibuk berkata-kata kotor dan memaki dengan garang. Tampaknya dia juga tidak bahagia.
Si pedagang meneruskan perjalanannya hingga tiba di tepi sebuah hutan. Saat dia berniat untuk beristirahat sejenak di situ, tiba-tiba telinganya menangkap gerak langkah seseorang dan teriakan lantang, "Huah! Tuhan, terima kasih. Hari ini aku telah mampu menyelesaikan tugasku dengan baik. Hari ini aku telah pula makan dengan kenyang dan nikmat. Terima kasih Tuhan, Engkau telah menyertaiku dalam setiap langkahku. Dan sekarang, saatnya hambamu hendak beristirahat."
Setelah tertegun beberapa saat dan menyimak suara lantang itu, si pedagang bergegas mendatangi asal suara tadi. Terlihat seorang pemuda berbaju lusuh telentang di rerumputan. Matanya terpejam. Wajahnya begitu bersahaja.
Mendengar suara di sekitarnya, dia terbangun. Dengan tersenyum dia menyapa ramah, "Hai, Pak Tua. Silahkan beristirahat di sini."
"Terima kasih, Anak Muda. Boleh bapak bertanya?" tanya si pedagang.
"Silakan."
"Apakah kerjamu setiap hari seperti ini?"
"Tidak, Pak Tua. Menurutku, tak peduli apapun pekerjaan itu, asalkan setiap hari aku bisa bekerja dengan sebaik-baiknya dan pastinya aku tidak harus mengerjakan hal sama setiap hari. Aku senang, orang yang kubantu senang, orang yang membantuku juga senang, pasti Tuhan juga senang di atas sana. Ya kan ? Dan akhirnya, aku perlu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas semua pemberiannya ini".
Sahabat-sahabatku terkasih,...
Mungkin sebagian dari kita mengalami hal seperti cerita ini.. Seringkali merasa tidak cukup bahagia.. mengeluh.. dan terus mencari pembenaran diri untuk layak mengeluh.. Sesungguhnya pada saat kita mengeluh, Tuhan Sang Pencipta sedang bersedih, melihat kita umatNya tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikanNya...
Memang harta kekayaan merupakan kebahagiaan yang berwujud.. namun ada kebahagiaan yang tak ternilai harganya, yaitu saat kita sudah melakukan segala sesuatunya dengan baik.. dan apa yang kita lakukan dapat membuat orang lain bahagia.. terlebih apa yang kita lakukan dapat membuat Tuhan tertawa bahagia dan upah kita sungguh lah besar di Surga...
Walaupun mudah untuk ditulis.. mudah untuk disharingkan, namun cukup sulit untuk dilakukan.. Oleh karenanya, sahabat-sahabatku terkasih, bila kita masih sering mengeluh, masih sering merasa tidak cukup bahagia, yukss.. kita belajar untuk mempunyai hati yang lapang untuk menerima segala sesuatu yang telah diberikan Tuhan untuk kita dan tetaplah BERSYUKUR.... maka kita akan BAHAGIA..

Salam sukses luar biasa untuk kita semua !
GBU

Sabtu, 11 Juli 2009

Menabur Kebaikan, Menuai Kebaikan..

Satu hal yang aku yakini bahwa siapa yang menabur benih kebaikan, maka ia akan menuai buah kebaikan.. Jadi, marilah kita berbuat baik selalu, dimanapun, kapanpun dan kepada siapapun...
Sungguh menyedihkan, mengenaskan dan memprihatinkan, setiap kita melihat siaran televisi dan radio yang memberitakan berbagai bencana atau musibah yang terjadi di sekitar kita. Anak-anak yang seharusnya bersekolah dengan tenang, harus kehilangan baju dan buku-buku sekolah, karena hanyut terbawa arus banjir yang melanda daerahnya. Sekelompok keluarga yang semula hidup begitu nyaman, tak pernah menyangka mereka akan menjadi penghuni tempat-tempat pengungsian, ketika sebuah tanggul jebol dan memporak-porandakan seisi rumah mereka. Banjir besar, gempa bumi dahsyat, tanah longsor, dan semua bencana yang terjadi, selain merusak prasarana dan sarana kehidupan, melumpuhkan aktifitas perekonomian, juga menelan banyak korban jiwa manusia dengan tak pandang bulu, anak-anak, orang muda, kakek nenek, bahkan bayi tak berdosa pun kerap lenyap, tanpa seorang pun dapat mengelaknya. Hanya dapat pasrah kepadaNya dan berusaha menghadapinya dengan lapang dada.

Memang hidup penuh perjuangan! Demi mempertahankan hidupnya, manusia bekerja membanting tulang siang dan malam. Kadang berjuang melawan penyakit yang dideritanya (walaupun tak diinginkan). Dan ketika bencana datang menerpanya, mereka juga harus berjuang untuk tetap hidup dan menata kembali kehidupannya dari puing-puing traumatis, kehancuran dan kehampaan. Namun di balik kesedihan, gerutu bahkan protes kita kepada Tuhan kala bencana menimpa kita, tidak ingatkah kita bahwa Tuhan tak akan pernah memberikan cobaan kepada kita, yang melebihi kemampuan kita untuk menghadapinya? Sungguh suatu janji manis yang akan menenangkan setiap kita bahkan di dalam keadaan sangat sulit sekalipun.

Namun, janji itu juga tak serta merta diberikan Tuhan langsung kepada setiap umatNya. Dia akan memakai setiap kita yang (puji Tuhan) masih dapat makan bersama keluarga di meja makan, masih dapat bersekolah dengan tenang, masih mempunyai pekerjaan dan penghasilan, masih dapat tertawa riang dan bernyanyi dengan sukacita. Kita akan dipakaiNya untuk menolong setiap mereka yang tidak (atau tidak lagi) merasakan seperti apa yang kita rasakan. Lalu..., apakah kita mau menjadi alatNya, dan siap mengulurkan tangan kita 'tuk membantu sesama yang membutuhkan..?

Bagaikan roda yang berputar, terkadang berada di atas dan terkadang di bawah. Begitu pula kita, manusia biasa yang tak akan pernah tahu apa yang akan terjadi pada kehidupan kita di masa yang akan datang. Oleh karenanya kita tak pantas bersombong diri dan mementingkan kepentingan diri sendiri. Saling tolong menolong mungkin sikap yang paling pantas untuk kita lakukan selama kita hidup di dunia ini. Namun semuanya kembali pada diri kita masing-masing, apakah kita dengan iklhas dan tulus hati ingin menolong sesama atau tidak, dan tak ada seorang pun yang dapat dan berhak memaksakan kita untuk melakukannya.

Aku sungguh beruntung berada diantara teman-teman yang sangat peduli terhadap penderitaan orang-orang di sekitar kami. Secara berkala, kami merencanakan dan melakukan kegiatan sosial, sehingga secara tak langsung kami selalu diingatkan untuk setiap saat peduli dan berbagi kepada sesama. Bukan seberapa besar dana yang kami sumbangkan atau seberapa banyak waktu yang kami curahkan untuk melakukan aktifitas sosial, sebagai ukuran kepedulian kami terhadap sesama, namun yang terpenting adalah niat baik dan ketulusan hati setiap kami untuk melakukannya.

Dewasa ini, sikap peduli kepada sesama bukan hanya menjadi tanggung jawab pribadi, tapi juga bagi perusahaan, melalui berbagai aksi sosial yang dilakukan oleh perusahaan kepada masyarakat, yang kita kenal sebagai kegiatan CSR (Corporate Social Responsibilty).

Sebegitu pentingkah kita menolong sesama atau sebegitu pentingkah sebuah perusahaan melakukan kegiatan CSR? Apa yang melatarbelakangi seseorang, sekelompok orang dalam suatu komunitas masyarakat atau perusahaan, menolong dan membantu sesamanya? Karena panggilan hati, niat baik, sekedar memenuhi ajakan teman, atau mungkin sekaligus untuk mencari perhatian orang atau pihak lain ?

Bagiku, apapun alasannya, yang penting adalah ketulusan hati dari setiap orang yang melakukannya. Ketika kita atas nama perorangan, kelompok tertentu atau perusahaan, bersama-sama ke lokasi para korban banjir, membantu mereka membersihkan rumah dan lingkungan sekitar, menghibur anak-anak yang trauma akibat bencana yang baru saja dialaminya, atau ketika kita saling bahu membahu membangun sekolah yang rusak akibat gempa bumi. Dan apabila setiap dari kita melakukannya dengan begitu semangat, sukarela dan tulus hati, bahkan lelah dan peluh pun menjadi keriangan kami. Jadi, apakah masih perlu dipertanyakan, alasan apa yang melatarbelakangi mereka menolong sesamanya ?

Satu hal yang aku yakini bahwa siapa yang menabur benih kebaikan, maka ia akan menuai buah kebaikan.. Jadi, marilah kita berbuat baik selalu, dimanapun, kapanpun dan kepada siapapun...

Sebuah keyakinan sederhana ini akan membawa setiap kita yang berbuat baik akan menerima kebaikan. Dan apabila satu orang di dunia ini berbuat baik kepada satu orang lainnya, dan satu orang yang menerima kebaikan berbuat baik lagi kepada satu orang lainnya, dan begitu seterusnya, maka maka aku yakin, dunia ini menjadi baik adanya, di masa sekarang sampai masa yang akan datang ...

Sabtu, 04 Juli 2009

Dua kata : "Terima Kasih ..."

Sebuah ucapan sederhana yang mampu mengubah kehidupan…
– seringkah kita menerima ucapan ”terima kasih” atau sudahkah kita mengucapkannya kepada orang lain ?


Aku sering kesal dan terkadang tak habis pikir kepada seseorang (yang mempunyai hubungan yang cukup dekat denganku). Aku seringkali membantunya dalam berbagai hal, baik ketika dia sedang ditimpa musibah atau aku yang memang sedang berbaik hati memberikan atau membelikan sesuatu untuknya. Namun jarang sekali aku mendengar kata “terima kasih” keluar dari bibirnya. Aku bukan seorang yang “gila pujian”, namun sekedar sebuah ucapan singkat itu rasanya bukan suatu hal sulit untuk dilakukan. Apa dia berpikir karena kedekatan hubungan kita membuat aku sudah “seharusnya” dan “sewajarnya” membantu dan menolongnya, sehingga tak perlu lagi sebuah ucapan itu dilakukannya.

Ternyata tak hanya kepadaku dia sulit mengucapkan kata “terima kasih”. Seringkali aku mendapatkannya juga ketika dia akan keluar parkir, di sebuah loket karcis parkir (kebetulan parkir gratis), begitu karcis diberikannya ke petugas dan palang parkir terbuka, dia dengan begitu saja melaju dengan mobilnya tanpa mengucapkan sepatah apapun. Memang terlihat hal ini simple, namun bukankah pada saat kita akan keluar parkir, walaupun gratis, namun kita juga telah dilayani oleh petugas itu, dan sekali lagi apalah susahnya mengucapkan kata “terima kasih” kepadanya atas pelayanannya?

Lama-lama aku gerah juga dengan kondisi seperti ini. Dan aku tak ingin, hanya karena sebuah ucapan sesederhana itu yang sangat jarang dia ucapkan, membuat aku menjadi hitung-hitungan dalam memberikan bantuan atau kebaikan kepadanya. Maka kucoba berbicara kepadanya dan memintanya untuk mulai belajar mengucapkan ”terima kasih” kepada siapapun yang telah memberikan bantuan sekecil apapun kepadanya.

Awalnya sangat sulit sepertinya, membuat dia melakukan hal itu. Aku harus berulang kali mengingatkannya untuk mengucapkan kata ”terima kasih” itu, bahkan kepadaku (padahal dipikir-pikir lucu juga aku meminta orang lain untuk mengucapkan terima kasih kepada diriku sendiri). Dan aku selalu memberikan contoh kepadanya dengan tak pernah lupa mengucapkan ”terima kasih” kepadanya, untuk setiap hal kecil apapun yang dia lakukan untukku.. Walaupun hanya sekedar untuk mengambilkan sendok atau tas, selalu kuucapkan dua kata itu kepadanya.

Usahaku kini sepertinya membuahkan hasil, kini dia mulai terbiasa mengucapkan kata ”terima kasih” kepadaku, kepada petugas loket parkir, dan kepada setiap orang yang telah melakukan sesuatu untuknya. Dan aku pun melakukan segala sesuatu untuknya dengan sukarela, karena dia telah menunjukkan kepadaku bahwa dia menghargai setiap apa yang kulakukan untuknya dengan sebuah ucapan ”terima kasih”.

Apakah kita merasa bahwa dua buah kata sederhana ”terima kasih” ini menjadi sangat berarti..? – aku sering menerima ucapan ”terima kasih” dari atasanku sesaat ketika aku pamit pulang kepadanya (setelah seharian aku bekerja di kantor). ”Terima kasih ya Yen...”, sebuah kalimat pendek yang dalam kondisi tertentu (mungkin ketika aku sedang merasa sangat lelah) mampu menggetarkan hatiku saat mendengar kata itu. Sebuah ucapan yang berarti dia (atasanku) merasa telah dibantu olehku dalam hal pekerjaan.

Jadi, pentingkah sebuah ucapan ”terima kasih” ? Percayakah kita bahwa dua kata sederhana itu, dapat membuat orang yang menerimanya, merasa menjadi orang yang berarti dan berguna dalam hidupnya? Membuat dua orang yang sedang bermusuhan bisa menjadi akrab kembali? Atau... justru dua kata sederhana itu, tetaplah menjadi sesuatu yang sederhana dan tak berarti apa-apa..?

Semua itu terserah Anda...

TERIMA KASIH untuk semua sahabatku yang telah membaca tulisan ini...
Semoga bermanfaat...

Senin, 27 April 2009

Jack.. oh.. Jack !

“Kalau tidak mengganggu aktifitas kerja, saya bersedia bu.. “ itulah sms balasan Jack kepadaku, sesaat setelah aku menanyakan kepadanya, apakah dia bersedia untuk berbagi cerita tentang dirinya kepadaku…”

Entah mengapa, aku ingin sekali mengisahkan tentang Jack, begitulah panggilan akrabnya, yang lebih dikenal dibandingkan nama aslinya “Zakaria”. Jack, seorang Cleaning Service yang kini menjadi Team Leader Cleaning Service dan Office Boy di Gedung OCBC NISP Tower, kantor dimana aku bekerja. Mungkin karena keramahan dan kesigapannya, sikap yang paling menonjol dari dirinya, yang membuat aku bahkan siapapun akan cepat mengenalnya.

Setiap sore, setelah jam pulang kantor, seperti biasanya tugas seorang Office Boy adalah mengangkut sampah dari tong-tong sampah yang berada di setiap meja kerja karyawan, untuk dimasukkan ke kantong sampah besar. Dan setiap sore di saat itu pula, aku merasa heran, karena sering tercium wangi harum di sekelilingku. Aku menyangka, pasti ada seseorang yang baru saja menyemprot minyak wangi dan lewat di sampingku, sehingga harum itu tercium olehku. Selidik punya selidik, aku baru mengetahui bahwa wangi harum itu berasal dari seorang Office Boy, yang sedang mengangkut sampah dari tong-tong sampah, dan dia adalah… Jack!

Sejak saat itu, Jack menjadi bahan pembicaraan aku dan teman-teman kantor. Berawal dari topik ”wangi harum” itu, secara tidak sengaja, kami pun mulai memperhatikan Jack lebih dari biasanya. Tak terlalu sulit bagi kami untuk meminta bantuan Jack baik untuk mengantar atau mengambil dokumen ke unit kerja lain atau tugas khusus lainnya, karena Jack cepat tanggap dan sigap dalam melakukan setiap pekerjaan yang diberikan kepadanya (supportive). Oleh karena kesigapannya dalam bekerja, membuat Jack selalu mempunyai waktu yang cukup untuk tugas-tugas mendadak sekalipun (connected). Sapaan hormat dan ramahnya, dengan menyebutkan nama kami, ”Selamat pagi Bu Yeny..”, ”Belum pulang Pak Andre ..”, ditambah senyum yang selalu menyertai wajah lugunya, seakan dia mengenal akrab kami satu per satu (Genuine). Ternyata, dia selalu berusaha melihat nama pada name tag setiap orang yang ditemuinya dan dia menghafalnya. Walaupun Jack hanyalah seorang Team Leader Cleaning Service dan Office Boy, namun semangatnya untuk belajar baik mengenai pengetahuan umum maupun hal-hal baru tetap tinggi. Dia yakin, bahwa salah satu kunci sukses yang dapat membuatnya menjadi besar adalah dengan terus menerus belajar (Forward Looking). ”Jadi.. sembari saya mengantar koran untuk para bos (tugasnya sebagai seorang Office Boy), saya baca dulu korannya walaupun hanya sekilas saja. Masa.. saya yang mengantar koran, saya tidak baca, rugi dong.. !” ujarnya sambil bergurau kepadaku.

Selain sebagai seorang Team Leader Cleaning Service dan Office Boy, Jack yang kini berusia 21 tahun, juga merupakan seorang kakak dan panutan bagi ketiga adiknya yang masih bersekolah. Jack mulai menapakkan kaki di dunia kerja pada bulan Juli 2006, setelah satu tahun dia menuntaskan bangku SMA. Jack yang bercita-cita menjadi seorang ABRI, tidak pernah berpikir bahwa dirinya akan menjadi seorang Cleaning Service. Namun dia tak putus asa dan menjalani pekerjaannya dengan senang hati dan penuh rasa syukur. Oleh karena keuletan, kegigihan dan semangatnya yang tinggi, Jack mulai menuai hasil. Dari tugas seorang Cleaning Service, dalam waktu 2 bulan dia telah diberi tugas menjadi Office Boy, dan dalam waktu +/- 2,5 tahun kemudian, dia diangkat menjadi Team Leader, dan dipercaya membawahi +/- 20 Cleaning Service dan Office Boy di kantor tempat aku bekerja saat ini.

Jadi teringat, saat kami merayakan hari ulang tahunnya pada tanggal 28 Agustus 2007 yang lalu. Kami yang bermaksud membuat kejutan, telah menyiapkan hadiah untuknya dari jauh hari, yaitu kaos bertuliskan nama ”Jack” dan beberapa kue sebagai ucapan selamat ulang tahun. Sejak pagi, Jack sudah terlihat di ujung ruangan, sedang mengelap meja-meja di dekat jendela. Kami yang sudah berkumpul sedari pagi juga, kemudian memanggilnya untuk datang ke tempat kami berkumpul. Rencana kami untuk memberikan kejutan kepadanya pagi itu nyaris gagal, karena Jack tidak mau meninggalkan pekerjaannya. Namun akhirnya kami jadi juga merayakan ulang tahunnya secara sederhana namun penuh kesan baginya.

Sempat bertanya dalam hati, mengapa Jack tidak mau datang ketika kami memanggilnya saat itu, apakah karena dia takut dikerjai oleh kami karena dia tahu bahwa dia berulang tahun hari itu, atau karena memang dedikasinya yang tinggi terhadap pekerjaan, sehingga dia enggan memenuhi panggilan kami. Tapi kini pertanyaan itu terjawab sudah, dengan diangkatnya Jack menjadi seorang Team Leader, cukup membuktikan bahwa kinerjanya memang baik. Dan satu lagi yang membuat aku menjadi sangat yakin, ketika dia berkata : “Kalau tidak mengganggu aktifitas kerja, saya bersedia bu..“ itulah sms balasan dari Jack kepadaku, sesaat setelah aku menanyakan kepadanya apakah dia bersedia untuk berbagi cerita tentang dirinya kepadaku, untuk kujadikan topik tulisanku ini. Saat kubaca sms itu, seketika itu pula, bibirku kelu seakan tak dapat berkata apa-apa, aku terharu melihat dedikasi Jack yang hanya seorang Team Leader Cleaning Service dan Office Boy, yang belum tentu dimiliki oleh setiap orang.

Secara individu, Jack sangat menjunjung tinggi nilai-nilai yang ditanamkan sang ayah kepada anak-anaknya, yaitu : Jujur, Disiplin dan Belajar. Nilai-nilai itu senantiasa menyertainya dalam kehidupan bersosialisasi dan pekerjaannya. Nilai-nilai itu yang membuat Jack berperilaku genuine, connected, supportive dan forward looking. Dan perilaku-perilaku itulah yang telah mengubah Jack, dari seorang Cleaning Service menjadi Office Boy hingga kini menjadi seorang Team Leader, dan dia optimis akan memperoleh kehidupan yang lebih baik lagi di masa mendatang.

Kisah Jack ini sungguh telah menginspirasikan aku dan membuat aku menjadi lebih memahami makna sebuah perubahan. Bahwa sebuah perubahan dapat terjadi oleh karena diri kita sendiri, yaitu dari pikiran kita, cara pandang kita dan perilaku kita. Sehingga, perubahan yang terjadi, apakah menjadi lebih baik atau bahkan lebih buruk, kitalah yang menentukan.

Kalau seorang Jack saja mampu merubah hidupnya menjadi lebih baik, tanpa paksaan dan tekanan dari siapapun, maka tak peduli siapa atau bagaimanapun kita, kita pasti bisa !

Minggu, 26 April 2009

Dear Riry ...


Kau sahabatku
Dan aku sobatmu
Kau kenangan masa lalu
Juga untuk masa yang akan datang

Kau selalu di sisiku
Aku merasa nyaman
Kala gelisah dan gundah hatiku
Kala gembira dan bahagia kurasakan
Kutumpahkan semua rasa itu disini
Di buku harianku, Riry…

Tahun 1989
Aku takut nih Ry, ada apa denganku..? Kata mamaku, aku mendapat haid pertamaku hari ini. Tidak enak deh Ry, risih rasanya. Tapi kata mamaku itu artinya aku sudah beranjak dewasa dan setiap perempuan pasti akan mengalami hal ini. Tapi benar kata mamaku, ternyata aku bukan yang pertama mengalami hal ini diantara teman-temanku. Duuhh… lega deh rasanya.. Tapi.. apa iya aku mulai dewasa sekarang..?

Tahun 1990
Aku lulus Ry… Hore.. ! Aku didaftarkan mamaku masuk SMP BPK Penabur, sekolah yang lumayan terkenal sih Ry, tapi gedungnya tidak terlalu bagus dibandingkan dengan gedung di cabang lainnya. Tapi tidak apalah, yang penting aku sudah bisa masuk sekolah yang cukup bergengsi.. Makasih ya ma...

Tahun 1991
Ya ampun.. bedak padat itu ternyata mahal ya, lebih mahal dibanding bedak Marcks, yang biasa kupakai. Lipgloss juga mahal.. belum lagi obat jerawat. Tadi siang aku beli obat jerawat ”Clearasil” itu ya Ry, sudah hampir menghabiskan uang jajanku dua hari. Ughh, jadi perempuan ternyata perlu banyak modal ya. Tapi kalau aku perhatikan, sekarang aku berubah koq.. terlihat lebih dewasa dan modis.. ciee.. memuji diri sendiri.. menurut kamu bagaimana Ry.. ?

Tahun 1992
Riry…, kasih selamat ke aku dong.. Aku lulus Ry.. senangnya... NEM-ku juga cukup bagus. Oya, tadi siang sehabis ambil ijasah, aku dan ”J” janjian pergi ke tempat kursus Bahasa Inggris “Santa Lusia”. Aku seneng tapi jantung berdebar-debar lho, ketika duduk bersebelahan di mikrolet dengannya.. Rencananya mau daftar les bahasa inggris, tapi mahal Ry.. jadi kita mau pikir-pikir dulu deh..

Tahun 1995
Hiks.. kenapa sih Ry, aku harus pisah dengan teman-temanku. Mama papa tidak sanggup membiayai sekolah SMA-ku di BPK Penabur, karena biayanya mahal sekali. Aku didaftarkan di SMEA dekat rumahku. Kata orang-orang sih cukup bagus. Ugh.. apanya yang bagus.. pasti teman-temannya tidak asyik deh.. Tapi..ya sudahlah, aku terima saja.. mau bagaimana lagi..?

Tahun 1996
Ternyata pillihan mamaku benar Ry… walaupun aku dimasukkan ke sekolah yang tidak terlalu terkenal, tapi... aku jadi terkenal lho. Aku selalu dapat ranking 3 besar, dan juga menyandang Ketua OSIS. Kapan lagi dapat pengalaman seperti ini..? Yah.. walaupun 3 besar diantara siswa yang jumlahnya tidak terlalu banyak, tapi aku bangga dengan diriku, dan keluargaku juga pasti bangga.

Tahun 1998
Tidak terasa ya Ry.. waktu begitu cepat berlalu.. Sekarang aku harus memikirkan akan melanjutkan sekolah kemana.. Aku kasihan dengan mama papaku, mereka pasti pusing dengan biayanya. Belum lagi biaya untuk kuliah kakakku yang masih setengah jalan. Tapi, masa aku tidak kuliah sih Ry, malu dong.. dan juga bagaimana mau dapat kerja ? Jaman sekarang kan, syarat utama diterima kerja harus ada ijasah. Yah.. sedihnya aku....

Bersyukur sekali aku Ry.. Akhirnya mamaku tidak harus mengeluarkan biaya kuliah untukku. Aku diterima di salah satu bank yang mengadakan program pendidikan setara dengan S-1. Tidak dapat gelar tidak apalah, yang penting dapat ilmu gratis dan bisa langsung kerja nantinya.

Tahun 1999
Ugh..pusing nih, ujian terus setiap hari. Padahal sudah sengaja bela-belain kost, biar waktu belajar lebih panjang, tapi tetap saja waktu terasa tak cukup. Belum lagi dosen “killer” itu sangat tidak suka kalau nilai ujian siswa-siswi nya jelek. Tapi untunglah, banyak teman yang rela berbagi kepintaran, jadi kami sering belajar kelompok di kelas. Yah, mau tidak mau harus dijalani, sudah untung dapat sekolah gratis..

Tahun 2000
Fiuuhh… leganya… akhirnya aku terbebas dari ujian-ujian yang melelahkan.. Aku lulus! Sekarang aku siap kerja..! Tapi.., kerja itu bagaimana sih Ry.. aku jadi takut. Kata orang, dunia kerja itu kejam.. Apa aku bisa ya Ry… bagaimana kalau dapat bos yang galak..? hiyy… serem membayangkannya.

Februari 2000
Hari pertamaku kerja, canggung deh.. bingung harus berbuat apa, merasa serba salah. Tapi untungnya, aku ditempatkan berdua dengan temanku di bagian yang sama. Ternyata benar kata orang, dunia kerja itu kejam... Pagi ini aku kena marah oleh salah satu bos, hanya gara-gara aku pinjam mesin fotokopi milik bagiannya, tapi aku tidak membawa kertas sendiri, dia mengingatkanku dengan nada ketus sekali, hiks… aku jadi takut Ry..

April 2002
Ry, aku tak pernah menyangka kalau Tuhan mengambil papa secepat ini dan dengan cara seperti ini. Papaku ditrabrak sebuah motor yang ngebut saat papa sedang menyebrang jalan. Saat itu, papaku baru saja selesai membelikan obat untuk mamaku di apotik. Hiks... Aku benci penabrak itu.. aku benci..!! Aku tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi nanti, keluargaku kini tinggal bertiga saja. Hanya ada aku, kakak dan mamaku. Aku tak kuat menahan air mata ini Ry, kala teringat papa yang sering menyiapkan sarapanku sebelum berangkat kerja. Padahal aku sudah sering melarangnya, tapi dia selalu melakukannya untukku. Papa juga selalu membangunkan aku dan kakakku setiap pagi, ketika alarm sudah tak mempan lagi membangunkan kami.. hiks.. tak hentinya air mata ini mengalir membasahi wajahku.. Apakah kau rasakan juga kesedihanku Ry..?

Januari 2003
Apa aku sudah siap untuk menikah ya Ry.. Tapi..., mengapa aku harus ragu, apa belum cukup aku mengenalnya selama 8 tahun ? Apa rasanya punya suami.. punya mertua.. ? Kata orang-orang, punya mertua harus hati-hati, jaga sikap.. ugh.. serepot itukah ?

Maret 2003
Sebenarnya... aku sudah lelah belajar terus Ry, tapi aku kan belum dapat gelar sarjana secara resmi. Mumpung ada kesempatan melanjutkan kuliah dengan waktu singkat dan biaya tidak terlalu mahal, sepertinya aku harus ambil Ry, demi masa depanku juga kelak..

Oktober 2003
Akhirnya aku menikah Ry.. Aku harus siap lahir batin untuk menghadapi kehidupan pernikahanku ini.. Karena tak ada lagi kata kembali, setelah aku mengambil keputusan ini. Aku serahkan seluruh kehidupanku kepada Tuhan.

Desember 2004
Tak terasa waktu berlalu, akhirnya aku merasakan juga pakai Toga. Walaupun aku kuliah bukan di universitas bergengsi seperti teman-temanku yang lain, tapi mama, kakak, suamiku, bahkan papaku di Surga pasti bangga dengan kelulusanku ini.

Desember 2006
Aduh Ry, bagaimana ya… apa aku ambil kesempatan pindah kerja itu? Sebenarnya aku ragu, karena aku harus menyesuaikan diri lagi, padahal aku sudah nyaman di kantor lama. Tapi.. kesempatan ini mungkin tak datang dua kali. Kesempatan untuk mengembangkan karir, membagikan ilmu dan pengalaman yang aku miliki di tempat baru. Rasanya aku ambil saja deh Ry.. doakan aku ya.. semoga aku dapat melewatinya dengan baik.

Maret 2006
Hari pertamaku di kantor baru.. Ugh.. rasanya tidak betah nih Ry.. Beda sekali dengan suasana di kantor lamaku. Disini, semua harus kulakukan sendiri, fotokopi sendiri, koordinasi pekerjaan dari A – Z sendiri pula, lembur deh.. Waduh, belum lagi tugas-tugas yang membuat kepalaku pusing tujuh keliling. Rumus excell yang ruwet dan ribet.. uughh.. aku kan belum pernah pakai rumus-rumus itu di pekerjaan lamaku. Tapi untunglah, ada teman yang bisa aku tanya-tanya. Malu juga sih, temanku itu jauh lebih muda usianya dibanding aku. Ah.. apa peduliku, yang penting aku jadi bisa, tambah ilmu pula kan..

Maret 2008
Ry, aku mau pindah bagian nih Ry.. Masa... dari pertama aku masuk kerja, bidang pekerjaan aku itu-itu saja. Bukan bosan sih Ry, tapi aku harus tambah pengalaman dong.. Iya kan..? Emm.., saat ini aku mantapkan diri untuk pindah bagian Ry.. Aku harus mengembangkan diri dan potensiku dengan lebih baik lagi. Tetap dukung aku ya Ry...

Melalui beberapa penggalan kisah hidupku ini, aku ingin menunjukkan, bahwa setiap manusia pasti mengalami perubahan sepanjang hidupnya, baik perubahan secara alamiah maupun karena kondisi di sekitar kita, yang membuat kita harus berubah. Memang ada saatnya kita merasa ragu untuk berubah, dan pilihan itu ada pada diri kita. Sayangnya, apabila kita memilih untuk tidak berubah, mungkin kita akan tertinggal jauh di belakang. Yang terpenting adalah perubahan itu haruslah mencapai sesuatu yang lebih baik. Sehingga tidak ada yang akan berkata ”aku tidak suka dengan perubahan” atau ”aku tidak mau berubah”.. melainkan biarkan perubahan menjadi bagian dari perjalanan hidupku”..

Sabtu, 11 April 2009

"Mesin Pembuat Lanjutan Cerita"

Setiap kami makan mie ayam di sebuah tempat makan di pinggir jalan, setiap kali itu pula kami didatangi oleh seorang penjual majalah yang memang mangkal disana. Biasanya aku tak pernah membeli majalah, karena aku takut tak sempat ‘tuk membacanya. Namun malam itu, dari sekian banyak majalah yang ditawari penjual itu, ada Femina, Cosmopolitan, Kartini.. entah mengapa aku malah mengalihkan perhatianku pada sebuah majalah yang rasanya sangat amat kukenal dan akrab dengannya.. sang tokoh yang mengingatkanku pada sebuah kenangan masa kecilku.. yah.. majalah Donal Bebek. Akhirnya kupilih majalah itu, seri ”Nostalgia Donal Bebek”, emm.. sungguh membuatku bernostalgia dengan masa kanak-kanakku..

Dengan perasaan tak sabar dan kangen rasanya, langsung saja kusobek plastik pembungkusnya dan kubaca bagian pertama yang berjudul : ”Mesin Pembuat Lanjutan Cerita”.
Emm.. aku sungguh tak salah pilih majalah nih.. walaupun hanya sebuah majalah anak-anak, tapi nyatanya ada beberapa pelajaran yang dapat aku ambil...

Donal Bebek dengan moncongnya yang panjang dan besar berteriak kesal, karena buku yang sedang asyik dibacanya sudah habis, yang artinya dia harus menderita selama tiga bulan untuk menunggu sampai seri berikutnya terbit.

Singkat cerita, dia bertemu dengan Lang Ling Lung – sang penemu apa saja, dan terciptalah sebuah mesin bernama ”Mesin Pembuat Lanjutan Cerita”. Sesuai dengan namanya, tentu saja mesin tersebut mampu membuat kelanjutan cerita apapun, dengan cara kita memasukkan buku atau majalah sebelumnya. Mesin ini bekerja seperti layaknya mesin pembaca masa depan. Senangnya Donal Bebek menerima mesin itu, karena dia tak hanya dapat membaca kelanjutan cerita buku yang sedang dibacanya, namun juga koran, buku dan majalah apapun yang dia inginkan.

Yah.. seperti kebiasaan Donal Bebek, sok pintar dan ceroboh.. berdasarkan beberapa analisa di koran yang dibacanya, dia langsung membeli beberapa saham, yang diyakininya bahwa harga akan mengalami kenaikan di kemudian hari. Namun, Kwik Kwek Kwak keponakan Donal Bebek yang cerdas ini justru melihat setiap kelanjutan cerita untuk waspada dan mencegah terjadinya hal-hal buruk yang akan terjadi, seperti pengrusakan sarang-sarang burung akibat proyek jalan raya Gober Bebek, bencana kebakaran di perusahaan susu, dan sebagainya. Donal Bebek yang tadinya tak peduli dengan pemikiran ketiga keponakannya, akhirnya ikut juga membantu, namun tentu dengan diiming-imingi kemungkinan bahwa Paman Donal akan menjadi Superhero dan diberi penghargaan, bujuk rayu Kwik Kwek Kwak kepadanya.

Melalui topik kisah ini, aku dapat mengambil sebuah pembelajaran bahwa dibalik keuntungan yang senantiasa kita pikirkan untuk diri kita, kita harus memikirkan pula kebaikan bagi orang lain. Saling menolong satu sama lain. Terlebih apabila kita sudah tahu bahwa akan terjadi sesuatu yang tidak baik kepada sesama kita. Sehingga hidup kita dapat berjalan seimbang dan harmonis.

Lanjut cerita, setelah Donal Bebek dan ketiga keponakannya menjalankan beberapa aksi penyelamatan bencana dan beberapa kali mendapatkan hadiah karena perbuatannya, mereka senang sekali dan bahkan Donal Bebek dengan bangganya menyebut bahwa "sudah saatnya dia menjadi Superhero.. !"

Namun beberapa saat setelah itu, Donal Bebek yang kembali ingin tahu kelanjutan cerita dari mesin pembuat lanjutan cerita, dia kaget bukan kepalang, karena beberapa saham yang dibelinya beberapa waktu lalu antara lain saham di perusahaan Gober Bebek dan perusahaan margarin, yang dikiranya akan naik, malah turun. Selidik punya selidik, ternyata saat mereka mencegah berbagai bencana yang ada, hal itu turut mempengaruhi turunnya beberapa saham. Akibat pembatalan proyek jalan raya demi menyelamatkan kelestarian burung langka, Gober Bebek rugi milyaran, sehingga saham perusahaannya turun. Dan ketika kebakaran di perusahaan susu berhasil dipadamkan, membuat perusahaan margarin merugi, karena para konsumen lebih memilih membeli susu ketimbang margarin.

Cerita diatas mungkin terlalu didramatisir, yah.. namanya juga cerita khayal, semua kejadian dapat dibuat serba kebetulan, hehe... Namun ada hal penting yang aku dapatkan dibalik cerita ini, yaitu bahwa
betapapun hebatnya dan berjasanya kita laksana Superhero, namun kita tetaplah manusia biasa, yang tak pernah bisa melihat masa depan secara utuh. Superhero yang sesungguhnya adalah Tuhan - Sang Pencipta. Sehingga hanya Dialah sang ”Mesin Pembuat Cerita” dan Dia yang mampu menjadikan setiap cerita berakhir baik adanya.

Inilah kisah yang dapat aku bagikan ke sahabat-sahabatku semua.. emm.. jadi tak sabar membaca seri Nostalgia Donal Bebek berikutnya... (perlu mesin pembuat lanjutan cerita?? ) haha..

Senin, 06 April 2009

Cerita Di Balik "Saman"


”Pokoknya kita harus hafal syairnya ya..”
”Senyum.. senyum dong.. jangan lupa.. ok..”
”Kita harus latihan intensif yah.. ”
”Ayo dihafalin di rumah ya gerakan-gerakannya..”

Kerja keras kami, para penari Saman, yang kebanyakan masih tergolong ”amatiran”, membuahkan hasil yang manis.. Kami berhasil.. kami berhasil..!! YEAAHHH...

Dari sekian banyak kejadian yang kami alami sejak kami bergabung menjadi satu kelompok tari.. ada beberapa hal positif yang dapat aku ambil hikmah dan maknanya.

Lutut memar, jari jemari membiru.. badan pegal-pegal..
Sungguh terkesan menderita..

Dengan waktu latihan yang tidak lama, membuat kami terkesan tergesa-gesa dalam berlatih.. Siang, sore, hari libur.. hajar teruss...
Hebatnya kami, tak ada satupun yang mengenal lelah.. Kami begitu bersemangat.. Mengapa ? Karena kami ingin ”eksis” sebagai kami, para penari Saman, dengan membawa filosofinya tentang kekompakan dan keharmonisan. Bagaimana mungkin kami membawa filosofi tersebut tapi kami tidak menunjukkannya..? M.a.l.u.. nya...
Hal positif pertama yang aku dapat :
Bila kita ingin berhasil, kita harus tunjukkan siapa kita, dengan segenap kemampuan dan upaya kita tuk mencapainya.

“Aduuhh... gue beneran deg-deg-an nih.. udah tinggal besok mau tampil..”
“Kita buat plan B yuks.. kalau kita ada yang salah gerakannya..”
”Ga usah.. yakin deh.. kita pasti bisa..”
Dua kata ”takut” dan ”yakin”, mana yang akan kau pilih..?
Hal positif kedua yang aku dapat :
Bila kita ingin berhasil, kita harus yakin dan percaya diri..

”Ayo.. kita latihan lagi gerakan ke-empat yah.. ”
”Iya sudah bagus tuh.. udah bener gerakannya seperti itu.. pertahankan ya..”
”Kamu kurang goyang sedikit bahunya..”
”Bisa koq.. dia pasti bisa.. ”
Berulang-ulang kami latihan untuk menyeragamkan gerakan kami.. Terkadang letih kami rasakan kala kami harus mengulangnya dikarenakan beberapa teman masih salah melakukan gerakan. Tapi kami melakukannya dengan senang hati, justru kami beruntung karena kami dapat menjadi lebih banyak latihan..
Hal positif ketiga yang aku dapat :
Bila kita ingin berhasil, kita harus saling membantu. Tidak boleh menganggap kesalahan teman sebagai penghalang kita, namun justru kita harus saling bahu membahu, demi tercapainya suatu tujuan bersama. Saling memuji dan koreksi satu sama lain juga menjadi penting dalam hal ini.

”Berdoa yuks.. sebelum dan sesudah latihan..”
”Tuhan, berikan kami tubuh yang sehat.. agar kami dapat hafal setiap gerakannya, agar kami tidak ada yang cedera saat latihan.. agar besok kami dapat bangun pagi untuk persiapan tampil, dsb..”
Kami hampir melupakan doa bersama untuk menyertai latihan kami. Namun akhirnya kami mengingatNya dan terus melakukannya sampai hari kami pentas. Kami semua meyakini bahwa tanpa pertolonganNya, sekeras apapun kami berusaha, mungkin akan sia-sia saja jadinya.
Hal positif keempat yang aku dapat (sesuatu yang LUARR BIASSSA) :
Bila kita ingin berhasil, satu hal yang amat teramat penting kita harus mengingat Yang Diatas dan mohon pertolonganNya selalu.

Di balik kekompakkan Tari Saman, ternyata ada kekompakkan-kekompakkan lain yang harus kita ciptakan.
Kompak dengan kemampuan kita,
Kompak dengan keyakinan diri,
Kompak dengan teman,
Dan..
Kompak dalam doa..

Mari kita ciptakan kekompakkan itu, bila kita ingin berhasil.. !

Salam Sukses buat semua teman-temanku
Saman Girls..

Minggu, 29 Maret 2009

Saatnya Memberi ...

Mungkin kita hanya melihat fenomenanya di sinetron-sinetron televisi atau sekedar mendengar cerita dari orang-orang di sekitar kita. Orang tua yang meninggalkan atau menitipkan anaknya di rumah sakit atau sebuah panti asuhan, dengan atau tanpa alasan apapun.

Bayi-bayi mungil yang tak berdosa harus hidup di lingkungan yang seharusnya bukanlah lingkungannya.. tidak di tengah-tengah orang tuanya maupun saudara-saudaranya.. Namun mereka tumbuh menjadi seorang anak dan menjadi dewasa di antara saudara-saudara walaupun tidak dalam satu pertalian darah, dan mereka justru menjadi satu keluarga besar, yang mandiri dan saling menyayangi.

Dengan perhatian dan kasih sayang dari para pengurus panti dan uluran kasih dari orang-orang yang peduli akan keberadaan merekalah, yang membuat mereka tetap ada di dunia ini, menjadi orang yang kuat dan siap menjadi pemenang.. pemenang bagi dirinya sendiri.. menang dari kesendirian, dari kepedihan dan dari kehampaan hidupnya.

Mari ulurkan tangan kita, satukan kasih dan sayang kita dan kita bagikan kepada mereka, anak-anak yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua namun berhak ’tuk disayangi dan bahagia..

Sahabat, ada saatnya kita menerima, dan ada saatnya kita memberi.. dan demikian seterusnya, kondisi itu akan terus berputar, bagaikan roda kehidupan..
Jadi, bagi sahabat-sahabatku yang ingin mewujudkan rasa kasih sayang dan peduli kepada anak-anak panti asuhan, mari bergabung dengan kami... Pls send message to my facebook or email add : indrawatiyeny@gmail.com untuk informasi lebih lanjut...

Tuhan memberkati.

Kamis, 19 Maret 2009

Menulis.. Susah atau Gampang ?

”Aku gak bisa menulis”.. , ”malu ah..” , ”tulisanku berantakan deh”..
”Janganlah, yang lain saja, lebih bagus tulisannya”.. ”bingung ah mau nulis apa..?”



Koq takut untuk menulis..??
Pernahkah kita menulis surat untuk sahabat pena nun jauh disana.. (jaman kita masih sekolah kali ya..), atau mungkin menulis surat cinta untuk sang pacar.. Dengan demikian seriusnya kita merangkai kata-kata menjadi suatu tulisan yang indah bukan..? Koq bisa..?
Yah... karena kita menulis dari hati ...

Kita sering takut untuk menulis.. takut tulisan kita dibilang orang tidak bagus.. , takut tulisan kita tidak dimengerti oleh orang yang membacanya.. , takut apa yang kita tulis tidak sesuai dengan kebutuhan atau bertentangan dengan kepentingan pihak lain...
Alasan-alasan tersebut wajar adanya.. namun janganlah menjadi penghalang kita untuk memulai menulis.. Karena... kalau tidak pernah dimulai.. maka tulisan indah karya Andrea Hirata (Buku Laskar Pelangi) atau tulisan kocak dan menghibur ala Hilman (Buku seri Lupus) tak akan pernah dapat kita nikmati..

”Aku sering punya ide yang terkadang sampai menumpuk di kepalaku, namun tak ada orang saat itu yang dapat aku ajak bicara atau sharing”, tanyaku kepada seorang teman yang hobi menulis, namun bukan seorang penulis.
Ya kalau begitu ditulis aja”, jawabnya singkat.
Tapi aku tidak bisa menulis”, kataku lagi.
Kalau kuperhatikan, kamu bisa bicara dengan aku atau teman-temanmu sedemikian lancar, menceritakan tentang topik-topik tertentu, mengenai pekerjaan misalnya, curhat tentang pacar, atau bahkan gosip.. Lalu, apa bedanya antara kamu bicara dan kamu menulis.. ? Tulisan itu ungkapan hati lho.. Jadi, siapapun sebenarnya bisa menulis.. ”
Oya..?”, tanyaku ragu...
Coba deh menulis mulai dari hal sederhana.. misalnya apa saja aktifitas yang kamu lakukan sepanjang hari ini, atau ketika kamu sangat menyukai sebuah film yang baru saja kamu tonton di bioskop, dan kamu ingin mengungkapkannya kembali melalui tulisanmu..?

Hingga suatu waktu aku mengalami suatu layanan yang cukup mengecewakan di sebuah toko yang kukunjungi tadi siang.. gerutu dan gerutu mewarnai bibirku sepanjang hari.. Tanpa kusadari, aku ambil sebuah pulpen dan beberapa lembar kertas yang tercecer di mejaku, dan aku mulai menulis.. Aku tulis pengalamanku yang mendapatkan pelayanan kurang baik itu dan heyy.. baru sebentar saja sudah 2 lembar kertas kuhabiskan.. Karena selain kutulis pengalaman buruknya, aku tambahkan dengan harapan-harapan aku akan pelayanan yang seharusnya..

Ternyata aku bisa.. dan aku tidak mengalami kesulitan dalam menulis.. Mengapa aku bisa lancar menulis ya..? yah... karena aku menulis dari hati ..
Menurut beberapa teman yang sempat membaca tulisanku itu, mereka mengatakan cukup baik.. yah.. hanya perlu dipoles lagi... dari caraku menyajikan ide pada tulisan, maupun pengetahuan-pengetahuan umum yang menunjang mutu tulisanku..
Mulailah timbul kepercayaan diri, ketika tulisanku sempat dimuat di majalah internal perusahaan dan dibaca orang banyak tentunya.

Sekarang aku tak takut lagi untuk menulis.. bahkan aku selalu ingin menulis dan menulis.. Karena dengan menulis, kita dapat menumpahkan seluruh isi hati dan pikiran, dan dengan menulis, kita dapat berbagi cerita dan pengalaman dengan orang lain..

Maka, apa yang kudengar, kurasakan, dan kulihat, tak ragu lagi aku tuangkan dalam sebuah tulisan.. karena tulisan adalah ungkapan hati ...

Minggu, 15 Maret 2009

Kehidupan Malam... Mengasyikkan..??

Asap rokok yang mengebul.. bagaikan kabut pagi di area pegunungan.. membuat sekujur tubuhku bau asap.. uughh... belum lagi hidungku yang terasa sakit dan sesak..

Terlihat disana sini, wanita dan pria berpasang-pasangan, entahlah pasangan resmi atau bukan, juga sekelompok orang mulai dari ABG hingga om dan tante. Mereka tertawa-tawa, riang gembira dan menari-nari, ditambah dengan botol-botol minuman menghiasi meja mereka, sungguh pemandangan yang jarang kulihat.. Beberapa pelayan pun terlihat sangat sibuk di tengah-tengah hiruk pikuk ruangan, mengantar minuman, makanan kecil, sambil sesekali menyalakan senter kecil ketika sedang memperlihatkan bon ke pelanggan di mejanya, karena ruangan yang gelap dan padat. Tak seperti suasana jalan raya, yang semakin larut malam, semakin sepi, namun disini semakin malam, semakin maraklah suasana.. Yah.. bagaimana tidak.. selain berkumpul dengan teman-teman.. banyak hiburan yang dapat dinikmati, tarian memukau para dancer wanita (terkadang membuat mata para pria tak berkedip), dan sesekali diselingi dengan permainan band dan lantunan lagu-lagu yang sedang ”in” saat ini.

Walaupun aku tak suka dengan semua itu, namun mau tak mau aku pun menjadi bagian dari orang-orang di dalamnya, karena beberapa teman sepermainan kami (aku dan suamiku) merayakan ulang tahunnya disana. Setiap kali aku berada disana, setiap kali pula tak henti-hentinya aku berpikir, bahkan menggeleng-gelengkan kepala.. ”apa yang sebenarnya mereka cari di tempat seperti ini ?” Sempat kutanyakan ke beberapa teman yang sering mengunjungi tempat itu, apa alasan dan tujuannya, dan mereka berkata : ”cari happy.. , lagi bete.. , pe-de-ka-te ama cewek.., bingung mau pergi kemana lagi.., mumpung cewek gw lagi keluar kota.., kebetulan nyokap bokap lagi keluar negeri..., diajak teman yang minta tolong untuk menemaninya, dsb..”

Mendengar semua alasan itu, lagi-lagi aku gelengkan kepalaku dan tak habis pikir.. Cari happy or lagi bete.. sesekali aja bolehlah.. tapi setahu aku mereka hampir setiap minggu dua kali pergi ke tempat itu.. pe-de-ka-te ama cewe atau bingung mau pergi kemana.. emm.. Jakarta sedemikian luas.. apa sudah habis dikelilingi oleh mereka sehingga mereka bosan ya..? tapi yang lebih mengerikan adalah ketika alasan itu adalah mumpung pasangan atau orang tua mereka sedang keluar kota atau keluar negeri.. karena... itu berarti kepergian mereka tidak direstui oleh pasangan dan orang tuanya.. ?? emm...
Otomatis pula otak bisnisku mulai berhitung.. kira-kira berapa uang yang harus mereka keluarkan dari koceknya, untuk membeli sebotol atau sepitcher minuman (beralkohol) ? 1 juta.. 2 juta..? Membayar mahal untuk sesuatu hal yang dapat merusak tubuh sendiri ? Dan tidak cukup rasanya pulang ke rumah sebelum pukul 01.00 pagi.. artinya tidur hanya 4-5 jam saja, dan besoknya harus beraktifitas lagi.. apa yang dapat diharapkan dengan kondisi seperti ini ? Jadi... apa alasan mereka pergi ke tempat seperti itu sebanding dengan semua akibat ini ?

Pernah suatu waktu, aku mengutarakan hal ini ke beberapa teman yang dalam seminggu bisa dua kali pergi ke tempat itu. Dan mereka menjawabku dengan sangat santai : ”yah.. nanti kalau sudah punya pasangan.. pasti bisa berhenti sendiri lah.. ” dan ada lagi yang menjawab : ”yah.. hidup itu musti ada belok-beloknya kan.. kalau lurus terus, ga asikk..”

Tapi.. yah.. semua keadaan seperti ini terjadi seiring dengan kemajuan jaman. Dari teman ke teman.. Bermula dari mencoba akhirnya menyukai.. Tak dapat berbuat apa-apa karena selalu diajak atau berada di lingkungan yang mendukungnya. Siapapun dapat menjadi bagian di dalamnya. Namun satu hal yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya. Teman... banyak hal yang dapat kita lakukan selama kita hidup di dunia ini... Masih banyak hal positif yang dapat kita lakukan yang juga tak kalah menyenangkan...

Nonton bioskop, karaoke, naik gunung, camping, ke mal, main futsal, main basket, volley, renang, ke pantai, ke cafe, ke warnet, nge-gossip, nulis, motret.. bukankah juga menyenangkan ????

Selasa, 06 Januari 2009

Berbagi Kasih Natal kepada Sesama

Natal kan tiba.. natal kan tiba..
Suasana syahdu mulai terasa saat memasuki bulan Desember
Sesyahdu hati kami ‘tuk berbagi kasih dengan para oma dan opa
Di Panti Werdha Melania, tepatnya di Jl. Pahlawan No.4, Rempoa – Ciputat.

Senangnya hati kami, dapat melanjutkan aktifitas bakti sosial kami yang ke-3, dimana kali ini kebetulan bertepatan dengan moment Natal, yaitu tanggal 20 Desember 2008. Sejak 1 minggu sebelum hari kunjungan kami ke Panti Werdha, kami telah sibuk menyiapkan segala sesuatunya, mulai dari persiapan dana, pembagian tugas masing-masing, rencana acara serta hadiah dan kenang-kenangan yang akan kami bagikan ke seluruh anggota panti itu.

Walaupun sempat bingung memikirkan acara apa yang akan kami lakukan (maklum sebagian besar dari kami, mungkin ini kali pertama kami mengunjungi panti werdha), namun untungnya moment natal tak begitu menyulitkan kami untuk merancang acara. Menghias pohon natal, makan siang bersama rasanya cukup untuk mengisi acara baksos kami kali ini. Selebihnya.. biarkan suasana mengalir apa adanya… Sempat terpikir oleh kami, mungkin juga ada sesi curhat.. yah.. maklum oma opa biasanya suka sekali ngobrol… dan panjaaang… :)

Mengenai makanan yang akan menjadi hidangan makan siang bersama, kami berbagi tugas, dari 7 menu masakan, masing-masing dari kami mengambil bagiannya dengan sukarela dan sukacita. Dan untuk pohon natal yang rencananya akan digunakan sebagai acara pamungkas kami yaitu menghias pohon natal bersama, puji syukur bahwa ada diantara kami yang menyumbang, jadi kami tinggal melengkapi dengan hiasan-hiasannya saja… :)

Sebagai tambahan acara, persiapan mendadak untuk acara quiz telah kami siapkan pula plus hadiah kecil bagi setiap oma atau opa yang dapat menjawab pertanyaan yang kami berikan.

Kira-kira 30 menit sebelum pkl. 10.00, waktu yang kami sepakati untuk berangkat ke Panti Werdha, kami telah berkumpul di lokasi seperti biasanya. Karena lokasi cukup jauh, segera setelah barang-barang bawaan masuk semua ke dalam mobil, kami pun segera berangkat. Uugghh… lagi-lagi macet menghambat kami ‘tuk sampai di lokasi tepat waktu.. sehingga kami harus merubah sedikit rencana, yang semula akan diawali dengan kegiatan menghias pohon natal bersama, jadi langsung makan siang, karena waktu sudah menunjukkan jam makan siang.. kasian oma opa nanti kelaparan…

Kedatangan kami disambut dengan hangat oleh seluruh anggota panti, baik pengelola panti dan para oma dan opa tentunya, yang sudah duduk rapi dengan mengenakan kaos seragam panti warna putih. Mereka menyanyikan lagu selamat datang, sebagai salam menyambut kedatangan kami. Tanpa berbasa basi terlalu lama, beberapa diantara kami segera membantu menyiapkan seluruh makanan yang kami bawa di meja makan.

Diawali dengan doa makan, kemudian makan siang pun segera kami santap bersama. Beberapa diantara kami membantu menyuapi makan oma atau opa yang sudah sangat sulit untuk makan sendiri. Dan ada beberapa juga yang harus kami antarkan ke kamar tidur, karena ada yang sedang sakit atau memang tidak dapat bangun dari tempat tidur. Haru dan bahagia tiada terkira kami rasakan saat itu…

Sembari oma opa menyantap makan siangnya ditemani dengan lagu-lagu natal yang diputar melalui CD Compo, beberapa diantara kami pun memasang pohon natal dan menghiasnya, karena rasanya sudah tak mungkin untuk melanjutkan acara menghias pohon natal bersama mereka, karena waktu yang tidak memungkinkan. Senang sekali rasanya bisa menghias pohon natal itu.. kebersamaan seperti ini rasanya sudah jarang kami temui bahkan di keluarga sendiri sekalipun. Tak berapa lama pun, pohon natal telah siap, cantik sekali warna hijau terang berbalut pita merah dan hiasan-hiasan nan menawan. Dan kami semua akhirnya selesai menyantap makanan kami.

Sebagai simbolis sah-nya pohon natal terang itu menghiasi aula panti, kami meminta salah satu perwakilan (oma atau opa), untuk menggantungkan hiasan bertuliskan “Merry Christmas” di pohon natal, sebagai tanda penghormatan kami kepadanya (yang kebetulan opa) sebagai anggota panti yang tertua.
Lengkaplah sudah pohon natal kami, dengan lampu berkelap kelip nan cemerlang, yang akan menjadi milik panti sebagai kenang-kenangan dari kami..

Setelah mereka semua kembai duduk rapi di kursi, kami pun melanjutkan acara quiz. Semula sempat tak yakin apakah para oma opa antusias mengikuti quiz dan apakah bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang kami berikan, namun dugaan kami salah.. mereka pandai sekali dalam menjawab dan sangat bersemangat. Senangnya….
Seselesai acara quiz, kami pun mulai bingung melanjutkan acara apa lagi, karena tak rela rasanya secepat itu kebersamaan kami berakhir, dan melihat mereka juga masih cukup bersemangat untuk bersama-sama dengan kami. Akhirnya kami pun mengajak oma opa, siapa saja untuk unjuk kebolehan.. menyanyi.. menari.. atau apalah.. karena menurut pengurus panti, mereka sangat senang bernyanyi…

Tanpa ba-bi-bu lagi, satu dua oma dan opa mulai angkat tangan untuk unjuk kebolehan. Diawali dengan seorang oma yang menyanyikan lagu jepang dan dilanjutkan dengan berpantun ria.. Wuiiihh… panjang kali pantun yang dibawakannya… satu.. dua.. tiga.. empat.. tak habis-habis pantun dia lantunkan, dengan hafal diluar kepala.. emm.. satu yang kami ingat “disana gunung disini gunung.. di tengah2 buah kenari, disana bingung disini bingung, menanti kekasih pujaan hati..” (hehe.. kalau gak salah ingat sih.. :).
Tak mau kalah, seorang opa pun maju ke depan, dan menyanyikan lagu Malam Kudus dalam bahasa batak. Yah.. walaupun kami tak mengerti bahasanya, namun kami sangat menikmati aksi dan suara opa itu.

Sudah tak ada lagi yang unjuk kebolehan, bingung lagi deh acara apa lagi ya.. untunglah salah satu pengurus panti segera melanjutkan acara dengan mengajak oma opa menari bersama.. dan CD lagu-lagu natal yang riang gembira pun kembali diputar… “Feliz Navidad.. feliz navidad.. “ beberapa dari kami maju ke tengah aula, membentuk dua lingkaran kecil, dengan bergandengan tangan satu sama lain, menggerakkan kaki dan sesekali berputar di tempat.. kemudian kami bergabung dalam satu lingkaran besar. Sementara yang lainnya tetap di tempat duduk dan bertepuk tangan mengikuti irama lagu.

Kira-kira 10 menit kami menari bersama, kami mengakhiri dan duduk kelelahan. Namun terlihat seorang oma masih sangat bersemangat menari.. bahkan nampak lebih kuat dibanding kami anak-anak muda. Dengan semangat terus melayani, salah satu dari kami pun jadi korban menemaninya menari… haha.. seru juga.. :)

Sebagai acara terakhir, kami membagikan bingkisan natal untuk para oma dan opa serta pengurus panti berupa parcel. Mereka sangat senang menerimanya.. terlebih lagi kami yang memberinya.

Dan beberapa dari kami sempat mengantar bingkisan ke salah satu oma yang sedang sakit di kamarnya. Kami mengobrol sangat seru sekali.. ternyata dia mantan seorang guru, dia ahli berbahasa Belanda dan Inggris. Kami pun diminta untuk tidak segan-segan meminta bantuan dia menterjemahkan tulisan atau bacaan bahasa Indonesia apapun ke dalam bahasa Belanda. Dan ternyata oma yang kami kunjungi itu, sekamar dengan oma yang tadi sangat antusias dengan aksi menari panggung. Dia pun dengan bangga menunjukkan salah satu sertifikat yang didapatnya dari lomba gerak jalan beberapa masa yang lalu. Yaah.. usia lanjut tak mematahkan semangat mereka untuk terus berkarya…

Waktu telah menunjukkan pukul 14.00, kebersamaan kami harus berakhir.. sedih juga rasanya berpisah dengan mereka.. namun mereka sudah cukup lelah dan perlu istirahat. Sebelum kami pulang, mereka menyanyikan lagu bersama ‘tuk ucapan selamat tinggal dan terima kasih… kalau dalam lagu yang mereka nyanyikan ada kata-kata “kamsia.. natur nuwun… terima kasih.. “ (siapa yang mengarang lagu ya.. lucu juga..) :)

Sebelum kami benar-benar pulang, kami sempat mampir untuk sekedar menengok dan memberi salam ke salah satu kamar yang memang khusus bagi oma atau opa yang perlu perawatan khusus…

Beberapa hal yang kami dapat dari kunjungan kami ke panti werdha itu adalah : usia lanjut bukan berarti tidak dapat melakukan apa-apa.. dan sebagaimana kami memperlakukan mereka dengan baik, sudah seharusnya pula kami melakukannya kepada orang tua kami.. karena setiap orang akan menjadi tua.. demikian pula dengan kita.. dan sampai kapan pun, setiap orang pasti mendambakan kasih sayang dan perhatian yang tulus.. seperti yang kami lakukan saat itu.

Kebersamaan yang kami rasakan sungguh indah tiada tara… Sampai bertemu lagi oma opa di lain kesempatan..