Minggu, 29 November 2009

Kyara.., tersenyumlah slalu...

Kyara…
nama yang begitu indah…
Matamu...tawamu...begitu mempesona...
Namun,...di balik cantik parasmu,
ada derita yang menoreh hidupmu...

Leukemia.. sebuah penyakit yang tak pernah kau inginkan..
Namun ia datang menghinggapi dirimu
di usiamu, yang bahkan belum mencapai 1 tahun...

Kyara...
Kuatkan hatimu...terus berikan senyummu,
pada ayah ibumu...
agar mereka tidak pernah patah semangat
’tuk merawatmu...membuatmu pulih dari deritamu..

Kyara...
Biarkan kami juga membuatmu bahagia dan slalu tersenyum..
Walau kau belum dapat mengerti,
akan smua yang terjadi pada hidupmu..
Biarlah kelak, yang kau tau hanyalah kau dalam keadaan sehat dan baik-baik slalu
Kyara, hanyalah seorang anak diantara +/-7 anak lainnya yang menderita kanker. Mereka sedang menjalani pengobatan untuk kesembuhan dirinya. Saat ini, mereka tinggal di Rumah Kita, yang terletak di Jl. Percetakan Negara, sebuah rumah singgah yang diperuntukkan bagi mereka (anak–penderita dan orang tuanya), yang perlu singgah atau menginap untuk beberapa waktu, selama anak mereka dalam masa pengobatan/ perawatan Rumah Sakit.
Saat ini, di Rumah Kita, terdapat +/- 8 orang anak penderita kanker. Ada Ando & Tika (penderita kanker mata), ada Kyara dan Dhea (penderita leukemia) dan beberapa anak lainnya. Mereka berasal dari berbagai daerah (Jakarta, Banten, Lampung, Batam, dsb). Mereka nampak akrab sekali, sudah seperti saudara dan sahabat. Seperti anak kebanyakan, mereka bermain, bercanda akrab satu sama lain.


Namun...di balik keceriaan Ando, Tika, Dhea dan anak-anak lainnya disana, terdapat derita dan sakit, yang harus mereka tanggung. Sedih, bingung terkadang putus asa dirasakan oleh para orang tua, yang harus terus menjaga, merawat anaknya dengan sangat baik. Dan terkadang harus mencari tambahan uang, kala anak mereka memerlukan obat yang sangat mahal harganya sementara tidak ada yang dapat menanggungnya. Hidup anak-anak penderita kanker disana sangat bergantung pada semangat hidup dari diri mereka sendiri..kasih sayang dan perhatian dari para orang tua dan orang-orang di sekitarnya.. dan juga bergantung pada obat-obatan dan perawatan dokter tentunya.

Adakah hati kita tergerak untuk membantu meringankan beban mereka..? setidaknya membuat mereka agar mempunyai semangat yang tak pernah putus dalam menjalani hidup ini..membuat mereka tersenyum bahagia..dan membuat mereka sembuh serta pulih dari segala sakit yang dideritanya..?

Mari kita bagikan berkat Tuhan yang kita peroleh, untuk adik-adik kecil kita, yang juga berhak untuk merasakan hidup sehat, dapat bersekolah, dapat bekerja, memperoleh kebahagiaan dan membahagiakan orang tuanya kelak...

Kami, The Cherish Club, rencananya akan mengadakan aksi sosial kami (ke-6) untuk adik-adik kami di Rumah Kita (Sabtu/ 19 Desember 2009). Bila teman-teman, ingin turut berpartisipasi (memberi sumbangan dana, barang atau tenaga), dapat bergabung dengan kami..

Adapun rencana bentuk donasi yang akan kami berikan (sesuai dengan dana yang terkumpul nanti) antara lain :
- Goodie Bag bagi anak-anak*) sesuai kebutuhan (pakaian, sandal/ sepatu, pampers, dsb) *) anak-anak yang berada di Rumah Kita dan beberapa anak penderita kanker lainnya
- Obat-obatan umum (minyak kayu putih, Betadine, dsb)
- Susu Dancow dan Milo (sesuai yang disarankan)
- Biskuit/ kue kering lainnya
- Gula, minyak goreng (beras tidak terlalu diperlukan karena persediaan masih banyak)
- Acara hiburan (mengundang badut/ sulap dsb)

Sekecil apapun hal baik yang kita lakukan kepada orang lain apalagi kepada orang yang membutuhkan, akan berarti besar bagi mereka. Dan percayalah bahwa kebaikan akan datang kembali kepada kita kelak..

Terima kasih.. Tuhan memberkati.

Bagi yang ingin berpartisipasi, dapat menghubungi kami di :
The Cherish Club

(Email)
indrawatiyeny@gmail.com
(Email)
d3551_saraswatycd@yahoo.com
(Email)
lyonathan@yahoo.com
(Email)
carla.carla@rbs.com

Senin, 19 Oktober 2009

Nah Ini Dia, Perlunya Ada Boss....

"Jualan kita hari ini lumayan ya..", kataku kepada suamiku selepas kami menutup toko handphone kami hari ini.
Yaah...pembeli toko handphone kami hari ini cukup bervariasi. Ada teman, langganan baru dan langganan yang sudah lama sekali tidak muncul, baru terlihat lagi hari ini.. bahkan ada konsumen yang tiba-tiba datang hanya sekedar membeli nomor perdana (tapi tiga nomor sekaligus...). Wah...senangnya..

Perbincangan ringan itu menjadi perbincangan yang cukup menarik perhatianku, hingga akhirnya aku menulisnya di blog-ku ini.

Kami baru saja memiliki seorang pegawai di toko handphone kami. Namun, pegawai kami kali ini agak berbeda dengan ”Lia” pegawai kami yang terdahulu (dapat baca kisahnya juga di blog aku sebelumnya, berjudul ”Bahasa Bukan Sekedar Bahasa"). Pegawai kami yang sekarang, sebut saja ”Isus”, memang cenderung kurang ramah dan luwes dalam melayani customer kami.

Namun, bukan hal itu yang menjadi topik utama perbincangan aku dan suamiku malam ini. Tiba-tiba saja (karena tidak biasanya suamiku menganalisa sesuatu hal), suamiku mengatakan hal ini kepadaku, ”Kebayang gak, kalau tadi kita pergi jalan-jalan ke Bogor atau kemana gitu, kira-kira apa bisa ya Isus jualan semua handphone seperti yang laku hari ini..?”
Sempat berpikir sejenak, lalu kujawab dengan ragu namun pasti, ”yaa..sepertinya tidak jualan sih..!”

Kalau kami (tepatnya ”aku”) tidak ada di toko hari ini, mungkin saja temanku tidak jadi membeli. Temanku ini baru saja seminggu lalu tahu bahwa aku punya toko handphone (tidak sengaja lewat di depan toko). Dia bukan teman dekat aku dan dia cenderung agak bawel (alias ”jago nawar”). Apakah dia akan membeli handphone ketika kami tidak ada ? nampaknya tidak semudah itu dia memutuskan untuk membeli di toko kami. Tapi akhirnya dia membeli dua handphone baru (Blackberry boo..), dan sekaligus menjual kedua handphonenya (puji Tuhan..). Kira-kira mengapa dia akhirnya jadi membeli handphone ? jawaban singkat (tanpa analisa lebih lanjut), karena kami ada di toko. Namun tidak hanya ada, tapi kami juga melayani mereka dengan baik.

Ada pula langganan lama suamiku. Dia datang, setelah kurang lebih setahun tidak nampak. Dia juga membawa dua handphone untuk dijual dan ditukar dengan handphone baru. Kalau suami aku tidak ada di toko hari ini, apa kira-kira dia akan menyerahkan handphone nya untuk dihargai pegawai kami? (walaupun pegawai kami sudah diberi kewenangan memutuskan harga, dan apabila mendesak, dia bisa saja menelepon kami untuk memutuskan). Tapi, apa cara seperti ini cukup nyaman untuk langganan kami? Bisa-bisa dia kabur ke toko lain, yang ada bos-nya, sehingga dapat menegosiasikan harga lebih leluasa. Untunglah, ada kami disana, dan akhirnya dia jadi menjual kedua handphone-nya kepada kami.

Kalau saja langganan kami tersebut tidak jadi menjual handphone-nya, maka penjualan berikutnya kepada sekelompok supir angkot (mereka yang mengakuinya sendiri lho.., hehe..lucu juga..ada supir mikrolet, supir metromini, supir kopaja), yaitu sebuah handphone mungil murah meriah tidak akan terjual kepada supir tersebut. Karena handphone ini adalah handphone second yang baru saja kami beli dari langganan kami yang datang sebelumnya.

Melanjutkan perbincangan kami seputar kejadian di toko handphone kami hari ini...
Jadi teringat, seorang ”engkoh” di Food Court Ambasador sebelah kantorku. ”Engkoh” itu adalah pemilik sebuah kios makanan yaitu masakan Jawa Timur. Dia terlihat selalu hadir di kios-nya bahkan turut melayani customer. Pertama, dia menawarkan menu, kemudian menjelaskan menu yang ada, bahkan terkadang dia yang mengantar sendiri makanan yang telah dipesan sampai ke meja customer. Padahal, soal rasa sih biasa saja.. tapi tempat makan itu menjadi cukup dikenal diantara kami, yah..karena ”engkoh” si pemilik sangat terlibat aktif dengan para customer-nya.

Contoh lain, dalam kehidupan kita sehari-hari di kantor. Seringkali kita kecewa karena ketika kita mengadakan meeting penting, undangan yang datang adalah bukan orang yang tepat, sehingga mungkin saja meeting jadi tidak berakhir dengan suatu keputusan. Dan biasanya yang dapat memberi keputusan, tidak lain adalah ”Boss” bukan..? Tapi sebaliknya, kita akan sangat senang dan merasa terhormat, ketika kita tidak berharap seorang ”Boss” datang menhadiri meeting kita, namun tiba-tiba dia datang untuk ikut berdiskusi. Hal itu dapat membuat kita menjadi lebih bersemangat dalam suasana meeting tersebut.

Wah...panjanglah ceritanya kalau mau didetailkan satu per satu. Tapi yang ingin aku sharingkan saat ini adalah ”ternyata keberadaan seorang Boss untuk turut melayani customer dan atau mendampingi pegawai dalam suatu aktifitas tertentu, sangat memberikan pengaruh positif bahkan dapat menentukan sukses atau tidaknya suatu kondisi”.

Jadi, kalau dapat aku simpulkan, apa perlunya keberadaan seorang Boss di setiap kondisi, baik di antara customer, pegawai dan bisnisnya ?
Keberadaan Boss akan :
1. Membuat customer percaya atau lebih yakin dengan harga/ keputusan yang diberikan kepadanya, karena diberikan langsung oleh si pemutus (yang berwenang memutus).

2. Membuat customer merasa lebih nyaman dalam bertransaksi, karena dia dengan leluasa dapat mengungkapkan hal-hal baik atau bahkan komplain-komplain, dan yakin bahwa apa yang diungkapkan telah disampaikan ke orang yang tepat. Sehingga apabila ada hal yang kurang baik, customer berharap akan cepat diperbaiki.
3. Membuat customer merasa dirinya dihargai dan dihormati karena dilayani langsung oleh pemiliknya (sebagai orang dengan level tertinggi di suatu unit tertentu – toko, divisi, unit kerja, perusahaan, dsb)

Jadi, kalau kita adalah seorang Boss.. dimanapun kita berada, pastikan bahwa kita senantiasa berada di tengah-tengah customer kita (untuk mengenal, mendekati dan melayani mereka), di tengah-tengah pegawai kita (untuk menularkan hal-hal baik yang kita miliki, memantau hasil kerja mereka dengan pendekatan personal), di tengah-tengah bisnis kita (agar senantiasa dapat memahami dan mengembangkan bisnis dengan lebih teliti dan cermat).

Minggu, 11 Oktober 2009

Thalassaemia..oh Thalassaemia (part_1)

Thalassaemia… mendengar namanya pun mungkin hampir tak pernah… hanya samar terdengar, namun berlalu begitu saja… Sampai pada suatu waktu, aku mengetahuinya..aku melihatnya dan aku merasakannya.. merasakan kesakitan mereka..merasakan kepedihan mereka..namun masih ada butir-butir harapan kulihat dari setiap tatapan matanya..
Thalassaemia…yah..ternyata, nama itu adalah sebuah nama penyakit yang dapat mematikan..sungguh mematikan..

Apakah Thalassaemia itu ?
Thalassaemia adalah suatu kelainan darah yang terdapat di banyak negara di dunia, khususnya pada orang-orang yang berasal dari daerah Laut Tengah, Timur Tengah atau Asia. Singkatnya, terdapat dua jenis Thalassaemia yaitu Thalassaemia trait/ pembawa sifat Thalassaemia dan Thalassaemia mayor. Yang sungguh menyedihkan adalah mereka yang menderita Thalassaemia mayor, yang diderita sejak lahir, dimana tubuh mereka tidak dapat membentuk Haemoglobin yang cukup dalam darah mereka, sehingga memerlukan transfusi darah seumur hidupnya.

Ironisnya, transfusi darah yang dilakukan pun belum mampu membuat mereka sembuh dan menghilangkan penyakit tersebut, bahkan pada satu masa tertentu, karena terjadi penumpukkan sejumlah zat besi yang berlebihan dalam tubuh, justru dapat menimbulkan penyakit lainnya seperti jantung, hati, pankreas dll. Inilah yang pada akhirnya dapat menyebabkan kematian. (info lebih detail mengenai Thalassaemia serta pencegahannya dapat dibaca di
www.thalassaemia-yti.or.id atau sumber-sumber lainnya di internet).

Pada suatu waktu, kebetulan aku dan seorang teman berkesempatan untuk mengunjungi sebuah yayasan, khusus bagi para penderita Thalassaemia yaitu Yayasan Thalassaemia Indonesia, yang berlokasi di RS. Cipto Mangunkusumo (sebut saja “rumah singgah”). Sempat beberapa waktu kami mengundur kedatangan kami ke yayasan itu, sampai akhirnya dapatlah kami datang untuk bertemu dengan pihak pengelola yayasan.

Ternyata kami dipertemukan langsung dengan ketua/ pendiri yayasan tersebut yaitu Bapak Ruswandi. Wow.. senangnya.. , walaupun kami sempat menunggu beberapa saat sebelum bertemu dengannya dikarenakan beliau masih meeting internal.. namun kami menunggu dengan sabar dan senang hati..

Tak berapa lama pun, kami disapa oleh seorang wanita tepatnya seorang ibu, yang tidak lain adalah istri dari Bapak Ruswandi yaitu Ibu Watty Ruswandi, dan terakhir kami tahu bahwa beliau lebih dikenal dengan sebutan “Bunda”. Yah..mungkin karena kedekatan beliau dengan orang-orang di sekitarnya..khususnya mereka para penderita Thalassaemia, yang sudah menjadikan “rumah singgah” di rumah sakit tersebut pun sebagai rumah kedua bagi mereka.

Begitu selesai berkenalan dan berbincang-bincang sejenak, kami langsung dibawanya untuk mengunjungi sebuah kamar, kamar pasien katanya.. Ketika kami masuk ke kamar tersebut, kami seperti tidak melihat sebuah kamar pasien.. mungkin lebih tepatnya seperti sebuah kamar di rumah sakit darurat (seperti di tempat pengungsian, namun masih lebih baik, karena kondisinya cukup terang, bersih dan ber-AC). Begitu banyak ranjang berjajar disana, dengan begitu banyak anak-anak dan remaja berbaring di setiap ranjangnya (ada satu ranjang yang terisi dua atau tiga orang), dengan tangan yang tersuntik jarum transfusi, serta kantong-kantong darah yang menggantung di setiap sisi ranjang mereka. Yah..di kamar itulah, mereka men”charge” nyawa mereka, mengisi tubuh mereka dengan darah yang tak bisa mereka hasilkan sendiri melalui tubuhnya.

Ibu Ruswandi membawa kami melihat satu per satu pasien disana.. sebagian dari mereka nampak sehat, namun sebagian lainnya nampak lemah. Sesekali Bunda menyapa pasien-pasiennya dengan obrolan ringan namun penuh dengan kalimat ”penyemangat”.. yah..karena semangat untuk hiduplah yang harus mereka miliki dalam kondisi seperti itu.

Sempat aku terdiam dan terpaku kala aku melihat ada seorang ibu dengan anaknya laki-laki (cakep sekali anak itu.. dia putih..bersih..rambutnya pun indah). Ya...tentu saja ibu itu datang untuk menemani anaknya transfusi darah.
Sempat Bunda menyapa ibu tersebut, ”Baru datang Bu..? sudah dapat tempat belum..?”
”Ini lagi nyari tempat..wah sepertinya penuh ya..”.
Sembari Bunda melihat sekeliling, barangkali sudah ada yang selesai transfusi, sehingga ranjang-nya dapat dipakai oleh anak ibu itu, tak sengaja kami melihat barang bawaan si ibu. Selain tas yang dibawanya, ibu itu juga menjinjing sebuah plastik bening berisi jarum suntik dan beberapa peralatan kecil lain (tak begitu jelas terlihat). Melihat itu, aku dan temanku saling bertatapan.. , seakan kami ingin mengatakan hal yang sama.. ”sepertinya... inilah belanjaan para ibu ketika di kamar ini....bukan sayur mayur, bukan daging, bukan pula pakaian atau sepatu..seperti belanjaan ibu-ibu pada umumnya, namun seperangkat alat medis, ya...berbagai peralatan untuk keperluan transfusi darah”.

Tak berapa lama, kami pun keluar dari kamar itu.. Duduk sebentar di ruang tunggu, karena masih menunggu Bapak Ruswandi yang baru saja makan siang. Berbeda dari saat kami datang, yang masih penuh semangat..., namun setelah keluar dari kamar itu, kami merasa lemas..seakan tak ada tenaga lagi..kembali kami saling menatap..tanpa kata-kata, dan terlihat ada bulir-bulir air menyelimuti selaput mata kami..namun kami menjaga agar air mata kami tidak sampai jatuh ke pipi.

Yaah..kami tak kuat melihat pemandangan seperti itu.. tapi ini kenyataan, sungguh suatu kenyataan.. Ternyata ada kehidupan lain di luar sana yang mungkin tak kita ketahui dan pikirkan selama ini. Kalau selama ini kita sudah sangat merasa menderita dengan penyakit flu, demam, cacar, anemia, mungkin itu belum seberapa dibandingkan penderitaan yang dialami oleh mereka para penderita Thalassaemia.

Thalassaemia..oh Thalassaemia (part_2)

Kurang lebih 5 menit kami menunggu, akhirnya kami bertemu dengan Bapak Ruswandi di ruang meeting. Disana ada Bapak dan Ibu Ruswandi, dua orang ibu dan seorang anak muda sebagai anggota pengurus. Ternyata anak muda itu adalah juga penderita Thalassaemia. Walaupun dia sakit, terbukti bahwa penyakit tersebut tak membuatnya lemah, justru dia dapat berkarya melalui kontribusinya di yayasan tersebut.

”Kondisi dimana setiap saat ada saja penderita yang meninggal, sudah menjadi hal yang biasa bagi kami disini. Bahkan terkadang di antara mereka sering saling bertanya (dengan canda), siapakah yang akan meninggal lebih dulu..”, begitu diungkapkan Ibu Ruswandi. Mendengar perkataan itu, aku merinding.. bagaimana tidak..? kematian yang begitu ditakutkan oleh kebanyakan orang, menjadi hal yang biasa bagi mereka. Bahkan mereka sudah siap untuk menantikan kematian itu.

Kami terpana mendengar berbagai kisah yang diceritakan Bapak dan Ibu Ruswandi. Indonesia sungguh beruntung mempunyai orang-orang seperti mereka, yang begitu peduli dengan penderitaan orang-orang lain dan membantu meringankan penderitaan yang mereka alami. Dan, kami pun terpanggil untuk membantu mereka. Walaupun kami belum tahu apa yang akan kami berikan untuk meringankan beban mereka secara lahir batin.. dan walaupun panjang umur merupakan mujizat yang mungkin saja ada (harus kami amini), namun kami sungguh ingin memberikan yang terbaik bagi mereka, karena mereka juga berhak mendapatkan kebahagiaan di semasa hidupnya..

Dan melalui tulisan ini, adakah sahabat-sahabatku tergugah hatinya untuk membantu mereka..? Tidak ada yang lebih indah, daripada ketika hidup kita dapat menghidupkan orang lain yang membutuhkan..

Setetes Darah Berarti Buat Kami
Karya : Diah Rahayu Utami
(Penderita Thalassaemia yang meninggal 29-08-1990 usia 25 tahun)

Terlahir ke dunia...
Di antara berjuta-juta manusia,
Ada kebanggaan...kesedihan...harapan...
Kejenuhan... juga ketegaran...
Satu-satu.. berlalu....,
Berbaur dalam garis kehidupan...
Anugerah Yang Maha Kuasa.

Detak jantung berdegap
Menggerakkan denyut-denyut nadi,
Berpacu....melawan hidup..menentang maut
Suatu cobaan telah kuterima
Beban yang berkepanjangan..
.... Belum selesai...
Namun singkat namanya Thalassaemia
Denting jam berdetak...
Menyita hari-hari hidupku...

Di pembaringan... di jalanan...
Di tengah kesibukan....

Yang setiap saat kubutuhkan,...
Kukuatkan jiwa dan raga,
Lewat kesetiaan jarum-jarum kebajikan,
Yang bersiratkan merah darah...
Setetes darah orang-orang bijak,

Selama ini aku berangan-angan..
Ada suatu yang dapat menaklukkan...
Beban yang melekat di pundakku,
Namun, selama ini pula,
Belum nyata datang.. belum nyata,
Yang ada hanya harapan
Yang tak pernah menyajikan apa-apa,

Diantara FirmanMu Ya Tuhanku,
Kukembalikan daku,
Bahwa aku adalah milikmu..
Dan kuyakini FirmanMu, bahwa...
Dari Engkaulah beban yang ada di pundakku,
Dan dari Engkau jualah mujizat yang kudambakan

Kepada dunia..
Lihatlah mereka, saudaraku...
Penderita Thalassaemia
Mereka butuh ketegaran dan tetesan darah
”Setetes Darah Sangat Berarti Buat Kami”

Kepada sahabatku...saudaraku...
Mari...marilah...
Jalurkan tangan terbuka dengan muka tengadah,
Bacalah...ya Tuhan kami...
Jangan Engkau pikulkan beban yang berat..
Yang tak sanggup kami memikulnya...

Maafkanlah kami,
Ampuni kami... dan
Rahmati kami, Engkau penolong kami.

Hilangkanlah ketakutan kami..
Wahai Tuhannya manusia. Sembuhkan penyakit kami,
Engkau Maha Penyembuh,
Tiada kesembuhan melainkan...
KesembuhanMu... ya Tuhanku
KesembuhanMu yang tidak..
Meninggalkan penyakit.
Amin

Senin, 14 September 2009

Indahnya Berbagi di Bulan Ramadhan..

“Ayo… baksos yook… udah mau masuk bulan Ramadhan lho.. rencananya kan awal bulan September kita udah baksos lagi… Nanti keburu Lebaran… ga keburu deh… “

Yah.. sudah saatnya kami melakukan kegiatan baksos lagi, yang saat ini sudah kali ke-5 sejak kami melakukannya di bulan Mei 2008 yang lalu. Namun lagi-lagi kesibukan kami sehari-hari sempat membuat kami melupakannya.. Untungnya kami segera tersadar dan terpanggil untuk berbagi kepada mereka yang membutuhkan.

Setelah mendapatkan informasi alternatif tempat tujuan baksos dan survey ke lokasi, maka kami menetapkan tujuan baksos ke-5 kami yaitu ke Panti Asuhan Al Anwar, yang berlokasi di Jl. Pondok Jaya RT 05 Rw 02 - Bintaro, yang beranggotakan 25 anak yatim piatu (SMP dan SMA). Dan artinya.., kami harus segera mengumpulkan sumbangan bagi ke-25 adik-adik kami di panti tersebut.

Sempat muncul keraguan dan kekuatiran kami bahwa sumbangan yang akan terkumpul saat ini mungkin akan kurang memadai. Selain karena waktu pengumpulan sumbangan yang mepet (tidak sampai dua minggu), juga mungkin saja sebagian orang sudah mengalokasikan sumbangannya untuk tujuan yang lain, mengingat saat ini dalam bulan ramadhan (bulannya orang lebih banyak beramal) dan baru-baru ini terjadi bencana gempa di Jawa Barat.

Namun, tekad dan semangat kami tidak kendur, malah makin tertantang untuk dapat melakukan dan memberikan yang terbaik bagi mereka, anak-anak panti yang walaupun hidup seadanya namun tetap bersemangat menjalani hidupnya.

Waktu sudah semakin dekat, kira-kira kurang dari 8 hari lagi dari rencana kami pergi ke Panti Asuhan tersebut, namun dana dan barang yang terkumpul masih relatif sedikit, sehingga kami pun belum berani mengandai-andai bentuk sumbangan seperti apa yang akan kami berikan ke panti tersebut.

Lalu kami memutuskan bahwa pada H-3, berapapun dana yang terkumpul, akan kami belanjakan sesuai kebutuhan panti tersebut. Dan akhirnya..., alhamdulilah puji Tuhan, dana yang terkumpul terus bertambah..(bahkan sampai kami selesai belanja di hari terakhir pun, masih ada partisipan yang menyumbangkan sebagian rejekinya untuk berbagi).

Pada H-2 hingga H-1 kami masih terus belanja untuk sumbangan kami.. maklum kami harus berbagi waktu dengan tugas pekerjaan kami di kantor, sehingga kami hanya dapat belanja di waktu istirahat dan pulang kantor saja. Untungnya, kami melakukannya dengan sukacita, semangat dan saling mendukung satu sama lain. Membawa berkilo-kilo beras, berliter-liter minyak goreng, berlusin-lusin mukena dan baju koko, berdus-dus susu, dari tempat belanja ke kantor (basecamp) kami... walaupun berat namun terasa ringan ketika kami melakukannya bersama-sama...

Rupanya kendala tak cukup sampai di pengumpulan sumbangan saja, kendaraan untuk mengangkut barang-barang sumbangan ke lokasi pun sempat menjadi kendala bagi kami. Mobil yang tersedia hanya satu (milik seorang sahabat kami), sedangkan kami butuh minimal satu mobil lagi. Namun kami tak menjadi surut semangat hanya karena masalah mobil, ”kurang mobil..? taxi pun jadi lah.. J”

Cukuplah sudah persiapan kami dan kami siap berangkat ke Panti Asuhan Al Anwar..

Sabtu, 12 September 2009

Pagi itu, pkl. 09.00 pagi, waktu yang kami sepakati untuk berkumpul di OCBC NISP Tower – Casablanca. Kami segera membereskan barang-barang yang akan kami bawa ke panti untuk dimasukkan ke mobil. Sekitar pkl. 09.45, kami pun sudah melaju ke lokasi...
Uuugghh...namun jalanan macet dimana-mana, sehingga kami agak terlambat tiba di panti (seperti yang kami janjikan sebelumnya). Namun tak menjadi masalah, karena kami memang tidak ada rencana kegiatan atau acara khusus di baksos kali ini. Hanya sekedar bertemu pengurus panti, menyerahkan sumbangan dan bila sempat, bertemu dengan beberapa anak panti yang sudah pulang sekolah.

Setibanya di panti, kami disambut baik oleh pengurus panti, Bp. Haji Salim, Mba Etty dan seorang pengurus lainnya. Kami pun berbincang-bincang dengan mereka, sempat menanyakan suka duka mereka selama mengelola panti (sejak panti berdiri pada tahun 1992 dan mulai aktif pada tahun 1995), dan ternyata anak-anak panti sudah banyak juga yang mandiri (selepas dari pendidikan SMA). Dan akhirnya kami menyampaikan sumbangan kami yang seadanya dan berharap agar apa yang kami berikan dapat bermanfaat bagi anak-anak dan bagi panti juga.

Kami sempat bertemu dengan beberapa anak yang sudah kembali dari sekolah.. Senangnya dapat bertemu juga dengan mereka.... Kami semua berkumpul di aula dan telah nampak beberapa anak duduk rapi mengenakan mukena dan baju koko...mmm... anak-anak itu nampak soleh dan soleha sekali..(memberikan salam dengan mencium tangan kami – haru sekali rasanya..), bicaranya pun santun.. selain itu.. mereka cantik-cantik, ganteng-ganteng dan rapi pula...

Kami menyampaikan harapan kami dari apa yang kami bawa dan berikan kepada mereka. Sembako yang seadanya mudah-mudahan cukup memadai sampai dengan persiapan berhari raya, mukena dan baju koko sederhana dapat mereka kenakan saat berlebaran, dan yang tak kalah penting, kami memberikan pula lemari buku kecil dan juga buku-bukunya, sebagi investasi awal perpustakaan kecil mereka (menurut informasi, rencananya pengurus panti akan membuat perpustakaan).

Buku-buku yang kami berikan, selain sebagai ilmu tambahan pengetahuan sekolah (buku-buku pengenalan dasar komputer), sebagai penunjang keterampilan mereka (buku-buku kreasi masakan, menjahit dsb), juga sebagai penunjang motivasi hidup (buku-buku ajaran islami dan kisah nyata perjuangan seorang dalam meraih sukses).

Mereka nampak senang sekali menerima pemberian dari kami. Wajah dan senyum bahagia mereka bagaikan air yang menyejukkan hati kami yang dahaga.. Kami bahagia bila mereka bahagia...

Sebelum mengakhiri pertemuan kami, kami sempat berkeliling melihat kamar tidur anak-anak. Mmmm...tempat yang cukup luas namun dengan perabotan benar-benar seadanya.. Tempat tidur dengan kayu yang mulai rapuh dan beralas kasur tipis tanpa sprei, lemari pakaian yang nampak kusam dan sudah kurang menampung pakaian mereka.

Namun kami salut dengan pendidikan yang diberikan panti kepada anak-anak, membentuk mereka menjadi pribadi yang disiplin (dengan jadwal piket) dan norma kesantunan (dengan aturan/ batasan-batasan tertentu yang diberlakukan bagi mereka).

Pertemuan kami yang singkat itu kami akhiri dengan foto bersama, sebagai kenang-kenangan kami.. bahwa kami pernah bersamanya.. dan untuk mengingatkan kami bahwa mereka masih ada untuk kami ingat, kami kunjungi dan kami bantu di lain kesempatan.

Selamat tinggal cantik.. selamat tinggal ganteng.. semoga hati dan jiwa kalian tetap secantik dan seganteng parasmu.. yang akan membawamu ke masa depan yang lebih baik.

Senin, 17 Agustus 2009

Bersyukur dan Bahagia...

Terima kasih untuk sahabatku “Yenny Gunawan” yang telah mengirimkan email tentang kisah berikut ini untuk kita renungkan bersama :

Alkisah, ada seorang pedagang kaya yang merasa dirinya tidak bahagia. Dari pagi-pagi buta, dia telah bangun dan mulai bekerja. Siang hari bertemu dengan orang-orang untuk membeli atau menjual barang. Hingga malam hari, dia masih sibuk dengan buku catatan dan mesin hitungnya. Menjelang tidur, dia masih memikirkan rencana kerja untuk keesokan harinya. Begitu hari-hari berlalu.

Suatu pagi sehabis mandi, saat berkaca, tiba-tiba dia kaget saat menyadari rambutnya mulai menipis dan berwarna abu-abu. "Akh. Aku sudah menua. Setiap hari aku bekerja, telah menghasilkan kekayaan begitu besar! Tetapi kenapa aku tidak bahagia? Ke mana saja aku selama ini?"
Setelah menimbang, si pedagang memutuskan untuk pergi meninggalkan semua kesibukannya dan melihat kehidupan di luar sana . Dia berpakaian layaknya rakyat biasa dan membaur ke tempat keramaian.
"Duh, hidup begitu susah, begitu tidak adil! Kita telah bekerja dari pagi hingga sore, tetapi tetap saja miskin dan kurang," terdengar sebagian penduduk berkeluh kesah.
Di tempat lain, dia mendengar seorang saudagar kaya; walaupun harta berkecukupan, tetapi tampak sedang sibuk berkata-kata kotor dan memaki dengan garang. Tampaknya dia juga tidak bahagia.
Si pedagang meneruskan perjalanannya hingga tiba di tepi sebuah hutan. Saat dia berniat untuk beristirahat sejenak di situ, tiba-tiba telinganya menangkap gerak langkah seseorang dan teriakan lantang, "Huah! Tuhan, terima kasih. Hari ini aku telah mampu menyelesaikan tugasku dengan baik. Hari ini aku telah pula makan dengan kenyang dan nikmat. Terima kasih Tuhan, Engkau telah menyertaiku dalam setiap langkahku. Dan sekarang, saatnya hambamu hendak beristirahat."
Setelah tertegun beberapa saat dan menyimak suara lantang itu, si pedagang bergegas mendatangi asal suara tadi. Terlihat seorang pemuda berbaju lusuh telentang di rerumputan. Matanya terpejam. Wajahnya begitu bersahaja.
Mendengar suara di sekitarnya, dia terbangun. Dengan tersenyum dia menyapa ramah, "Hai, Pak Tua. Silahkan beristirahat di sini."
"Terima kasih, Anak Muda. Boleh bapak bertanya?" tanya si pedagang.
"Silakan."
"Apakah kerjamu setiap hari seperti ini?"
"Tidak, Pak Tua. Menurutku, tak peduli apapun pekerjaan itu, asalkan setiap hari aku bisa bekerja dengan sebaik-baiknya dan pastinya aku tidak harus mengerjakan hal sama setiap hari. Aku senang, orang yang kubantu senang, orang yang membantuku juga senang, pasti Tuhan juga senang di atas sana. Ya kan ? Dan akhirnya, aku perlu bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas semua pemberiannya ini".
Sahabat-sahabatku terkasih,...
Mungkin sebagian dari kita mengalami hal seperti cerita ini.. Seringkali merasa tidak cukup bahagia.. mengeluh.. dan terus mencari pembenaran diri untuk layak mengeluh.. Sesungguhnya pada saat kita mengeluh, Tuhan Sang Pencipta sedang bersedih, melihat kita umatNya tidak mensyukuri nikmat yang telah diberikanNya...
Memang harta kekayaan merupakan kebahagiaan yang berwujud.. namun ada kebahagiaan yang tak ternilai harganya, yaitu saat kita sudah melakukan segala sesuatunya dengan baik.. dan apa yang kita lakukan dapat membuat orang lain bahagia.. terlebih apa yang kita lakukan dapat membuat Tuhan tertawa bahagia dan upah kita sungguh lah besar di Surga...
Walaupun mudah untuk ditulis.. mudah untuk disharingkan, namun cukup sulit untuk dilakukan.. Oleh karenanya, sahabat-sahabatku terkasih, bila kita masih sering mengeluh, masih sering merasa tidak cukup bahagia, yukss.. kita belajar untuk mempunyai hati yang lapang untuk menerima segala sesuatu yang telah diberikan Tuhan untuk kita dan tetaplah BERSYUKUR.... maka kita akan BAHAGIA..

Salam sukses luar biasa untuk kita semua !
GBU