Sabtu, 07 Agustus 2010

Kenangan tak terlupakan ... (di Banjaran) - part 1

Inilah pengalaman pertamaku melakukan kegiatan sosial bersama para relawan yaitu rekan-rekan dari OCBC Singapore dan Malaysia. Walaupun kegiatan semacam ini tidak asing bagiku (karena kebetulan aku juga mempunyai komunitas sosial bersama teman-teman “Cherish Club”), namun bertemu dan beraktivitas sosial bersama mereka, apalagi dengan melakukan pekerjaan berat/ fisik untuk membangun ruang kelas sekolah, ini sungguh pengalaman pertama bagiku.

Aku sangat antusias menanggapi kesempatan yang sungguh luar biasa ini !!


Banyak sekali pengalamanku bersama teman-teman, suka-duka, cerita yang bisa aku bagikan untuk teman-teman semua, melalui tulisan ini…


1st Day

July 28, 2010

Seusai breakfast di hotel, kami (aku, mba Zia - rekan kerjaku, Ibu Lanny - atasanku dan beberapa rekan kerja lainnya) bergegas menuju tempat pertemuan kami dengan rekan-rekan dari OCBC Bank Singapore dan Malaysia di hotel lain (kebetulan kami pisah hotel). Sesampainya kami disana, mereka sudah berkumpul di lobby. Walau wajah dan bahasa mereka terasa asing bagiku, namun aku senang sekali bisa berkenalan dengan mereka. Mereka sekitar 35 orang, yang kelak akan menjadi teman baruku mulai dari hari ini … :)


Setelah perkenalan singkat, kami para relawan dari Group Operational & Technology’s (O&T) OCBC Bank Singapore dan OCBC Bank Malaysia. Tidak ketinggalan pula tim IT, Trade & Channel Operation dan Corporate Communication Division Bank OCBC NISP, total berjumlah 51 orang, segera meluncur menuju SMP Dua Mei, Banjaran. Sekolah yang tahun lalu telah kami bantu pembangunan 2 ruang kelasnya, kini kami kembali akan membangun tambahan 2 ruang kelas lagi untuk para siswa di sekolah tersebut.


Kurang lebih 2 jam perjalanan kami dari Bandung menuju Banjaran. Setibanya kami disana, adik-adik kami di SMP Dua Mei sudah bersiap menyambut kedatangan kami dengan tarian dan musik tradisionalnya. Sambutan semacam ini, walaupun sederhana (menari dengan kostum seadanya – seragam sekolah dan tanpa alas kaki), namun sungguh berkesan buat kami.

Setelah tarian selamat datang, dan prosesi mengalungkan bunga ke Mr. Lim Kiang Thong - Executive Vice President IT & Ops OCBC Singapore, Ibu Lanny Goenawi – Corporate Communication Division Head OCBC NISP dan beberapa rekan lainnya, Ibu Imas – Kepala SMP Dua Mei memberikan sedikit kata sambutan. Beliau menyatakan sangat bahagia karena telah banyak dibantu oleh team dari OCBC, khususnya untuk fasilitas infrastruktur sekolah.

Segera setelah mendengar beberapa kata sambutan, kami diarahkan oleh team Habitat for Humanity - sebuah organisasi nirlaba yang mempunyai visi dan misi untuk mengembangkan komunitas yang membutuhkan dengan membangun dan merenovasi rumah/sarana umum sehingga ada masyarakat yang layak di mana orang bisa hidup dan tumbuh bersama. Segera setelah arahan itu, kami langsung melakukan tugas kami. Kerja.. yuks kerja... :) . Kami mengerjakan apa saja yang dapat kami kerjakan. Memindahkan pasir dan batu kali dari depan gang ke dalam halaman sekolah.


Awalnya kami melakukannya sendiri-sendiri. Bolak-balik, dengan beban yang berat di tangan dan panas terik cuaca siang itu. Namun segera kami menyadari bahwa dengan cara seperti ini, pekerjaan kami akan selesai dalam waktu yang lama. Lalu kami pun mengubah caranya menjadi semacam ”estafet”, dimana kami mengoper ember berisi pasir atau batu dari satu tangan ke tangan lainnya, dari luar hingga sampai ke dalam halaman sekolah.



Anak-anak sekolah dan beberapa warga di sekitar sekolah pun tidak berpangku tangan, mereka ikut membantu kami melakukan beberapa pekerjaan. Dan kami heran, justru anak-anak perempuan yang lebih banyak ikut membantu kami... mengapa ya..? ooh.. ternyata kata mereka, karena kakak-kakak cowoknya ganteng-ganteng..ooppss...:). Kami pun membentuk estafet yang ”rapat” dan ”panjang”. Dan.... tentu pekerjaan ini menjadi jauuuuuuh lebih mudah.. yiipppieee.. DENGAN BERSAMA, PASTI KAMI BISA !

Sedikit demi sedikit pasir dan batu-batu kali kami pindahkan, hingga akhirnya selesai. Dan kami pun istirahat sejenak.

Saatnya makan siang... wah..lapaaar... :) Di sela-sela waktu istirahat, kami saling ngobrol mengakrabkan diri, dan beberapa lainnya bermain futsal dengan anak-anak pria (seusai mereka sekolah).


Hingga waktu makan siang usai sudah.. saatnya bekerja lagi.. kerja..kerja!! Tidak ada yang bermalas-malasan, atau menunda-nunda waktu, kami pun langsung beranjak menuju lokasi untuk kembali bekerja. Sekarang saatnya memindahkan gundukan tanah dari satu area ke area lainnya. Dan kembali kami melakukannya dalam waktu yang tidak terlalu lama, karena kami sudah mempunyai kuncinya yaitu ”estafet”


Hal menarik lainnya, selain kebersamaan dalam bekerja, aku sempat mengamati seringkali kita mengucapkan kata ”sorry” bila seseorang secara tidak sengaja menginjak kaki temannya, atau bila operan ember dari seseorang yang kurang tepat diterima temannya sehingga ember hampir jatuh dsb. Kata lainnya, ”it’s too heavy – be careful”, yang selalu diucapkan ketika seseorang mengoper benda yang sangat berat ke temannya, sebagai tanda berhati-hati dan agar temannya bersiap menerima. Dan juga kata ”it’s okay”, ketika kita menyanggupimenerima beban yang cukup berat dari teman.


Ketiga kata ini walaupun terdengar simple, tapi penuh makna. Rasanya dengan 3 kata itu pun cukup menghantarkan kedekatan dan kebersamaan kami lebih jauh. Disinilah sangat nampak rasa saling menghargai dan menolong sesama.


Oleh karena keuletan kami dan bantuan anak-anak sekolah, pekerjaan ka mi di hari pertama pun selesai. Dan acara hari itu ditutup dengan prosesi peletakkan batu pertama diwakili oleh Mr. Lim Kiang Thong, Ibu Lanny Goenawi dan Bp. Muhammad – Wakil Kepala SMU Dua Mei,sebagai simbolisasi demi kelancaran proses pembangunan 2 ruang kelas pada khususnya dan kesejahteraan bagi kita semua.


Selesai prosesi tersebut, kami kembali ke hotel masing-masing untuk bersiap makan malam bersama di kantor cabang utama OCBC NISP - Bandung.

Makan malam kami yang sederhana, menjadi istimewa karena founder dan Presiden Komisaris Bank OCBC NISP – Bp Karmaka Surjaudaja dan Bp. Pramukti Surjaudaja serta Bp. Yogadharma Ratnapalasari – Direktur Bank OCBC NISP turut serta makan malam bersama kami. Wah senangnya.. Dan.., makanan khas Bandung pun habis kami lahap. Doyan atau laper yaah..?? :) . Terima kasih banyak yah untuk teman-teman di Bandung, yang sangat cekatan membantu persiapan makan malam kami dengan menu yang sangat istimewa (temulawak, es sarang burung dan tahu baso-nya, wuuiihhhh mereka suka sekali lho..!! – makanan Bandung memang ”is the best” lah.... :) )

Setelah makan malam usai, usai pulalah pekerjaan kami di hari pertama... (siap-siap obat gosok, obat urut dan balsem yah... agar besok siap kembali bekerja ! :) )


2nd Day

July 29, 2010


Singkat cerita, kami pun sudah tiba kembali di Banjaran pukul 08.00 pagi. Tanpa saling menunggu, kami segera mengambil sarung tangan dan masker, dan kembali bekerja...! Kali ini,pekerjaan kami adalah memindahkan genteng-genteng, batu bata dan pasir dari satu tempat ke tempat lainnya. Walaupun tugas lebih berat, ditambah kondisi cuaca yang lebih panas dari hari kemarin, namun karena anak-anak sekolah dan warga membantu kami, pekerjaan pun menjadi lebih ringan.


Di hari kedua ini, kami dan anak-anak sekolah semakin akrab. Berbincang-bincang di sela-sela pekerjaan kami. Bahkan anak-anak berusaha memahami dan berbicara dalam bahasa inggris, agar mereka (khususnya teman-teman dari OCBC Singapore) mengerti apa yang mereka bicarakan. Dan selama kami beristirahat pun, anak-anak menghibur kami denganmenyanyi lagu cinta “Aishiteru” (yah.. lagu ABG Indonesia jaman sekarang :) ).

Sungguh..., lelah kami menjadi bahagia kami saat itu.... pegal-pegal terasa hilang seketika... Amazing...amazing ! (mengucapkan amazing dengan gaya Tukul :))

Akhirnya selesailah target pekerjaan kami hari ini. Kami kembali ke hotel masing-masing untuk beristirahat, dan siap bertemu kembali di hari ketiga esok hari.

Sabtu, 19 Juni 2010

no title ...

Sudah lama rasanya aku tidak menulis di blog ini... sibuk..? atau tidak ada ide..?
Apa itu sibuk..? sombong rasanya kalau mengatakan diri ini sibuk.. karena masih banyak orang sibuk yang masih bisa melakukan banyak hal di tengah-tengah kesibukannya..

Pikiranku sedang kacau saat ini... jadi tulisan ini mungkin tulisan "ngaco" aja, sekedar melampiaskan kegalauan hati dan kekosongan pikiran...

Akhir-akhir ini aku merasa sepi...
merasa tidak berarti...
merasa tidak ada yang dapat dibanggakan...
entah mengapa...

Melihat teman-teman yang jauh lebih muda dari aku, mereka pintar, pandai berbahasa inggris, sekolah di luar negeri, mendapatkan beasiswa pula... cara berpikir dan gaya menulisnya juga luar biasa...!! Belum ditambah dengan kemampuan mereka ber"komputer", ber"teknologi", whuuaaaa..... tidaaaakkk..!!! stress aku memikirkannya...
Sejenak kuterdiam, sambil duduk memojok, kutengok diriku, siapalah aku... hanya seorang karyawan swasta, yang sudah bertahun-tahun bekerja, yang terus bermimpi jadi orang sukses dan kaya..! berhayal punya mobil mewah dan rumah megah (kayak lagu Oppie Andaresta, andai a..a..a...aku jadi orang kaya..) :)

Walaupun sebagian teman mengatakan aku orang yang pintar (katanya...), dan selalu semangat dalam menjalani segala sesuatu, tapi apa mereka tahu apa yang sebenarnya dalam diriku ini..? Kerapuhanku.., keraguanku..., ketakutanku dalam menghadapi semua ini...

Aahh...memang tidak akan ada yang tahu, selain Tuhan-ku..
Allah yang baik.. ya Dia sungguh baik.
Dia yang tidak pernah menganggap diriku tak berarti..
Dia yang sangat mengerti kebutuhanku..
Dia yang selalu menopangku bila aku jatuh..
Dia yang selalu mengirimkan teman-teman untuk menguatkanku..
Dia yang memampukan aku bila aku tak mampu..
Sehingga tidak ada keraguan aku untuk melangkah...

Bangganya aku menyebut Dia Bapa...

Terima kasih Tuhan Yesus !

Minggu, 09 Mei 2010

Kini kami adalah Sahabatmu..., Sahabat Thalassaemia Indonesia..!

Berawal dari nge-blog, aktivitas iseng yang biasa kulakukan, menulis tentang apa saja yang aku lihat, aku rasakan dan aku pikirkan.. Dan salah satu topik tulisanku yaitu tentang pengalamanku pada suatu kesempatan mengunjungi para penderita Thalassaemia di RSCM – Jakarta. Selang 2 bulan setelah kuposting tulisan itu, ada sebuah komentar yang dipost-kan oleh seseorang, bernama Pipin Ramdani, dengan pesan sebagai berikut : 
Maaf baru ketemu blog-nya..
Trims ya..sudah mau mengekspose tentang Thalassaemia di blog-nya. Semoga ini akan semakin ”mempopulerkan” persoalan ini ke khalayak ramai. Saya sudah ”berkenalan” dengan Thalassaemia sekitar 11 tahun, karena memang anak bungsu saya ”mayor” statusnya (kayak militer saja ya..).
Kami (saya dan anak saya) sepakat untuk menghadapi ”berkah” ini dengan ikhlas, rasional dan asyik-asyik saja...
Karena, yang namanya hidup, tanpa persoalan saja memang sudah susah, apalagi dapat bonus ”Thalassaemia”. Mengeluh, memang bukan hal yang saya suka. Kalau ada persoalan kan lebih baik dicari solusinya..bukan berkeluh kesah..habis energi kita nanti. ”Appreciate” saya untuk Mbak Yeni n Gangs, yang dapat memaksimalkan waktu, tenaga, harta dan kasih sayang untuk orang-orang yang ”terlupakan”. Kalau ada kesempatan (sempatin dong..) berkunjunglah ke tempat kami agar bisa saling bersilahturahmi lebih dekat, sekalian refreshing... alamat kami di :
Pipin Ramdani (Ketua I POPTI Garut)
Kami doakan semoga Mbak Yeni sekeluarga dan teman-teman selalu ada dalam lindungan Yang Maha Kuasa, Amien....

Aku membaca komentar ini tepat sehari setelah aku dan beberapa teman Cherish Club membicarakan tentang rencana baksos kami yang memang saat itu akan kami tujukan ke Thalassaemia. Waktu itu, aku ingin membaca lagi tulisan di blog aku tentang Thalassaemia, untuk memastikan apakah tulisan tersebut masih relevan bila dipakai untuk mengajak rekan-rekan berpartisipasi dalam rencana baksos Cherish Club kali ini. Dan ketika aku mendapati dan membaca komentar itu, aku merasa ada suatu “feeling”.. Entah mengapa, aku merasa seperti “berjodoh”.., atau apalah namanya..

Dan bukan karena ajakan berkunjung dari Bp. Pipin di blog itu yang membuat aku dan teman-teman akhirnya ingin ke Garut, namun karena kami melihat semangat dan sikap beliau dalam menjalani hidup, bersama anaknya yang juga menderita Thalassaemia. Hati kami tergugah, ingin berbagi dengan mereka, para penderita Thalassaemia di Garut, yang konon kabarnya sudah mencapai +/- 146 orang waktu itu.

Untungnya, rencana kami berbagi dengan para penderita Thalassaemia di Garut ini disambut baik oleh seluruh teman-teman yang selalu mendukung Cherish Club, sehingga kami pun sepakat untuk menjalankan baksos ke-7 kami yaitu mengunjungi adik, sahabat dan saudara Thalassaemia kami di kota Garut.

Kontak melalui telepon dan email pun terus menerus kami lakukan dengan Bp. Pipin, untuk memastikan kebutuhan apa yang sekiranya dapat kami bantu untuk para adik dan saudara kami disana. Namun dengan rendah hatinya, Bp. Pipin selalu mengatakan, ”yang penting mau berkunjung ke tempat kami, sudah cukup membuat mereka bahagia”.

Singkat cerita, kami mendapat informasi kebutuhan mereka yaitu beberapa obat dan/ atau alat medis yang memang tidak dicover oleh Pemerintah (melalui Askes/ Jamkesmas), itulah yang akan kami adakan untuk mereka. Dan juga, kebutuhan tempat tidur, tempat untuk para penderita Thalassaemia melakukan transfusi darah. Walaupun untuk ruang nya sendiri, hingga saat ini mereka masih menumpang di Rumah Sakit. Namun mereka berharap secepatnya akan mendapatkan ruang khusus untuk transfusi, karena kebutuhan ini adalah untuk mendukung aktivitas rutin yang mereka lakukan. Note : Setiap harinya, ada sekitar 6-7 orang yang transfusi darah, men”charge” hidup mereka dengan darah baru, yang tidak dapat mereka hasilkan sendiri melalui tubuhnya.

Seperti biasa, teman-teman yang senantiasa mendukung Cherish Club, dengan sigap mengulurkan bantuan baik moril maupun materiil, bersatu padu demi tercapai tujuan kami membantu meringankan sedikit beban adik-adik dan saudara kami di Garut. Kami tak peduli, seberapa besar dana yang dapat terkumpul nanti, namun hati kami senang sekali, melihat semangat dan antusiasme serta rasa peduli teman-teman kami untuk membantu sesamanya.

Sabtu, 17 April 2010

Tiba saatnya kami untuk belanja beberapa kebutuhan baksos, yaitu membeli beberapa obat dan alat medis yang dibutuhkan para penderita Thalassaemia. Mengikuti rekomendasi dari Bp. Pipin bahwa obat dan alat medis itu bisa didapatkan di Pasar Pramuka – Jakarta, maka kami pun akan mencari dan membelinya disana. Jujur, kami (aku dan beberapa teman) baru kali pertama ke Pasar Pramuka, apalagi membeli obat dan alat medis. Namun berbekal referensi nama dan spesifikasi yang cukup jelas dari Bp. Pipin, kami pun berhasil menemukan beberapa obat dan alat medis yang dibutuhkan, antara lain : Desferal, Aquabides, Kompres Bye-bye Fever, obat demam, perban, kapas, plester, dsb. Semua itu adalah obat dan alat medis yang dibutuhkan untuk mendukung proses transfusi darah.
Sedikit mengulas, Desferal dan Aquabides adalah obat untuk menetralkan zat besi di dalam tubuh, karena setiap penderita Thalassaemia yang rutin melakukan transfusi darah, maka zat besi akan menumpuk di dalam tubuhnya, dan itu tidak baik adanya bila dibiarkan. Karena akan menjadikan kulit tubuh kusam atau menghitam. Obat ini memang agak mahal, dan penggunaannya yang disuntik ke dalam tubuh akan terasa sakit (apalagi untuk anak-anak), sehingga selain harganya cukup mahal dan rasa sakit itu, biasanya anak-anak enggan menggunakannya, walaupun sebenarnya hal ini sangat amat membantu tubuh mereka.

Sedangkan kompres dan obat demam diperlukan, apabila sehabis transfusi terkadang efeknya adalah panas suhu tubuh, sehingga perlu diberikan kompres atau obat penurun panas. Kapas dan perban adalah pelengkap (satu paket) untuk mereka saat melakukan transfusi darah.

Beberapa kebutuhan lainnya, kami rencanakan untuk membeli saja di Garut, agar tidak perlu membawa barang banyak dari Jakarta.

Dan khusus untuk tempat tidur, kami pun menyerahkan ke Bp. Pipin untuk mengkoordinir pengadaannya. Rencananya, tempat tidur tersebut akan sengaja dibuat (tidak beli jadi), karena walaupun bukan tempat tidur Rumah Sakit, namun demi keamanan, tempat tidur yang disarankan adalah harus memiliki roda dan penyanggah di kanan kiri ranjang.

Sabtu, 24 April 2010

Setelah sempat kuatir bahwa rencana kunjungan yang sudah kami rencanakan pada tanggal 24 April 2010 nyaris gagal, karena kendala transportasi, namun akhirnya karena berkat dan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, melalui seorang rekan kami yang selalu peduli dan mendukung kegiatan baksos kami, kami diberi pinjaman mobil dan driver. Puji Tuhan, Alhamdulilah, akhirnya kami dapat berangkat ke Garut...!

Hari Sabtu nan indah, pukul 06.00 pagi, aku dan beberapa teman sudah berkumpul di OCBC NISP Tower (tempat yang hingga saat ini masih menjadi basecamp kami ). Kami siap berangkat ke Garut, membawa beberapa barang sumbangan dan tentunya jiwa yang penuh semangat, karena ingin bertemu adik-adik dan saudara kami disana. Di perjalanan, Bp. Pipin selalu mengecek kondisi dan memastikan bahwa kami tidak tersesat..

Sempat kami dibuatnya kaget, ketika Bp. Pipin menyampaikan bahwa setibanya disana kami akan dipertemukan dengan istri Wakil Bupati Garut (Ibu Rani Permata). Hah..?!???!!!...entah harus senang atau takut.. yang pasti saat itu, jantung kami berdebar-debar. Aku sempat menolak tawaran itu, karena kami merasa bukanlah siapa-siapa, sehingga harus dipertemukan secara khusus seperti itu. Namun, akhirnya kami menerima dengan senang hati dan justru harus beryukur bila dapat bertemu dengan Ibu Rani, karena kami bisa berbagi cerita dan pengalaman bersamanya..

Kami tiba di Garut pkl. 10.00 pagi.. Wah.. tidak menyangka secepat itu kami tiba di Garut, karena perkiraan kami perjalanan Jakarta – Garut memerlukan waktu 5 jam. Syukurlah.. jadi kami masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Sesampainya kami di Garut, kami disambut hangat oleh Bp Pipin dan istri. Wah.. rapi sekali Bapak & Ibu Pipin berpakaian, jadi malu..sementara kami mengenakan pakaian seadanya.. Dan selanjutnya kami diantar ke Yogya Dept. Store, karena kami ingin membeli beberapa barang yang tidak sempat dibeli di Jakarta, seperti susu Indomilk, susu cair, handuk, dan beberapa snack lainnya. Memang kami agak mendadak mengadakan semua itu, karena kami baru diberi tahu kalau ternyata Bp. Pipin berhasil mengumpulkan anak-anak penderita Thalassaemia sebanyak +/- 30 orang. Wow.., kami tidak menyangka anak-anak yang mau berkumpul untuk bersama dengan kami akan sebanyak itu, karena sebelumnya kami hanya meminta bertemu untuk sekedar bersilahturahmi sekitar 5 orang saja (perwakilan).

Sungguh luar biasa semua persiapan yang diadakan oleh Bp. Pipin dan seluruh pengurus POPTI. Setelah kami dibuat kaget dengan banyaknya anak dan orang tua yang berkumpul, kami pun dikagetkan lagi dengan aula tempat pertemuan yang telah disiapkan khusus untuk kami.. Jadi malu..sungguh malu.. karena kami tidak pernah disambut seistimewa ini setiap kami melakukan kunjungan.

Dibuka dengan kata sambutan dari Bp. H. Pipin Ramdani (Ketua I POPTI Garut), MM, Eng, da
n beberapa rekan POPTI lainnya, yaitu Bp. Drs. H. Burhanuddin Afif, Msi (Ketua Umum POPTI Garut) serta Bp. Agus Koswara (Ketua Bidang Humas) yang juga volunteer dari PMI, acara pun kami lanjutkan dengan menyerahkan beberapa barang kebutuhan anak-anak Thalassaemia secara simbolis. Dan menjadi sebuah kebiasaan di POPTI, bagi siapa saja yang mengunjungi adik-adik, saudara Thalassaemia di Garut, kami diminta untuk memberikan pesan-kesan melalui tulisan di selembar kain putih berjudul ”Sahabat Thalassaemia”. Sempat bingung mau nulis apa, yang terpikirkan hanyalah sebuah pesan sederhana :

Pesan kami hanya satu, untuk para sahabat Thalassaemia...
Tetap Semangat dan Bersyukur ! Karena hanya dengan itulah, melebihi arti Hidup ini !”
an. Cherish Club

Setelah acara penyerahan bantuan secara simbolis, tanpa berlama-lama, kami pun membagikan sedikit oleh-oleh secara langsung kepada adik-adik yang hadir saat itu, yaitu berupa susu Indomilk bubuk, susu Indomilk cair, Scotts Emulsion dan wafer. Bahagia sekali rasanya melihat senyum di wajah mereka saat menerima oleh-oleh yang tak seberapa itu.

Setelah membagikan oleh-oleh tersebut, aktivitas kami pun dilanjutkan dengan mengunjungi RSUD Dr. Selamet - Garut, karena kebetulan ada beberapa anak Thalassaemia yang sedang dirawat disana. Kami pun berjalan kaki bersama, menuju Rumah Sakit tersebut, karena kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari aula tempat kami berkumpul. Sebelum kami tiba di Rumah Sakit, kami sempat mampir ke UTD (Unit Transfusi Darah) PMI dan kantor POPTI, untuk menyimpan sebagian barang-barang bantuan kami yang diserahkan pengelolaannya ke POPTI. Walau cuaca siang itu agak terik, tak menurunkan semangat kami untuk terus melanjutkan perjalanan.

Setibanya kami di Rumah Sakit, kami mengunjungi Gita, seorang anak perempuan berusia
20 tahun, yang ”berkenalan” dengan Thalassaemia sejak usia 3 bulan. Gita harus dirawat di Rumah Sakit saat itu, karena kondisinya yang melemah, dengan limpa nya yang sudah agak membesar (seharusnya Gita sudah menjalani operasi limpa, namun Gita masih takut untuk menjalani operasi, katanya).
Oleh karena limpa yang semakin membesar, mengakibatkan Gita harus transfusi darah semakin sering, yaitu bisa 2 minggu sekali dan sekali transfusi 2-3 labu sekaligus.
”Gita.., kamu harus mengikuti anjuran dokter untuk segera operasi ya.. Jangan takut..., adik-adik kecil lainnya berani, kan demi kebaikan kamu juga nanti...” pesan kami untuk Gita saat itu.
Selanjutnya, kami dibawa menuju sebuah ruangan yang tidak terlalu besar dan berisi beberapa ranjang rumah sakit, yang ternyata itu adalah ruang yang dipinjamkan pihak rumah sakit untuk dapat dipakai adik-adik kami transfusi darah. Terlihat saat itu, seorang adik kami yang sedang jadwal transfusi. Walau masih kecil usianya, namun dia berani dan kuat menjalani semua ini.Disana, kami ditunjukkan sebuah tempat tidur yang kami berikan untuk adik-adik kami. Yah..walaupun baru jadi satu (sebagai simbolisasi), karena waktu yang tidak memungkinkan untuk menjadikannya semua, serta tempat yang belum memadai untuk menampungnya, namun kami sangat senang sekali... karena tempat tidur itu manis sekali berada disana, dan sebagian adik dan orang tua yang berada disana juga sangat senang menerimanya.

Setelah beberapa aktivitas tersebut, maka kami segera bersiap bertemu dengan Ibu Rani Permata (istri Wakil Bupati Garut – Dicky Chandra). Singkat cerita, kami bertemu dan makan siang bersama Ibu Rani di sebuah restoran khas Garut ”Jemani”. Sebuah tempat makan yang begitu nyaman dan teduh, seteduh wajah dan penampilan Ibu Rani yang terlihat sangat cantik dan bersahaja.

Sembari menikmati nasi liwet nan nikmat, kami mengobrol dengan santai namun penuh makna.. Berbicara tentang kondisi Garut dengan berbagai kekayaan wisata dan budayanya, tentang kesamaan rasa peduli kami dengan semakin bertambahnya penderita Thalassaemia di Garut, membahas beberapa upaya yang dapat dilakukan bersama untuk Thalassaemia, tidak hanya untuk Garut, namun untuk seluruh wilayah di Indonesia. Senang sekali rasanya bisa mengobrol banyak dengan Ibu Rani. Rugi deh kalau tidak bertemu dengan beliau..

Setelah bersantap siang, Ibu Rani tak ketinggalan diminta untuk membubuhkan pesan di selembar kain ”Sahabat Thalassaemia”, melengkapi pesan yang telah kami goreskan sebelumnya. Namun sayang, kami tak sempat merekam apa pesan yang disampaikan beliau saat itu.
Menurut Bp. Pipin, Ibu Rani sangat perhatian dan peduli dengan Thalassaemia khususnya di Garut. Oleh karenanya, beliau sangat gigih melakukan dan mendukung berbagai aktivitas terkait Thalassaemia, seperti aksi donor darah, sosialisasi pencegahan Thalassaemia, bantuan dsb.

Tak lengkap rasanya bila sudah bertemu dan berkenalan dengan Ibu Rani, tapi tidak mengabadikan moment ini bersamanya. Kami pun sempat berfoto bersama Ibu Rani dan beberapa pengurus POPTI Garut serta beberapa anak Thalassaemia.

Acara kunjungan baksos kami hari itu sebenarnya usai sudah. Namun kami masih sempat mengunjungi rumah keluarga Bp. Pipin, untuk bersilahturahmi sejenak sebelum kami kembali ke Jakarta. Setibanya kami di rumah Bp. Pipin, kami disambut hangat oleh Ibu Jamilah (istri Bp. Pipin) yang cantik jelita, dan ketiga anaknya, dimana salah satunya yaitu si bungsu bernama Fakhira Salsabila, yang sudah ”berkenalan” dengan Thalassaemia sejak usianya 6 bulan.

Di sela-sela perbincangan kami dengan Ibu Jamilah, beliau sedikit bercerita tentang pengalamannya merawat si kecil Fakhira. ”Sempat tidak percaya ketika Fakhira dinyatakan menderita Thalassaemia oleh dokter, sampai harus cek ke beberapa dokter. Namun hasilnya sama. Yah..disyukuri saja, dan harus dijalani.. mau bagaimana lagi..?”, ujarnya dengan nada lembut, berlogat khas Sunda. Fakhira diperlakukan sama seperti kedua kakaknya agar tidak semakin merasakan bahwa dirinya sakit, itulah salah satu trik yang harusnya dilakukan oleh para orang tua penderita Thalassaemia.

Fakhira sudah diangkat limpa-nya pada usia 6 tahun. Kala limpanya membesar saat itu, harapan Fakhira hanyalah ingin dapat mengenakan ikat pinggang dan tank top. Dan kini harapan itu sudah terwujud. Namun transfusi darah tetap harus dilakukannya secara rutin serta senantiasa menjaga kondisi tubuh agar tidak terlalu kelelahan. Fakhira anak yang manis dan pintar. Dia pandai bermain piano. Sayangnya, saat itu Fakhira malu-malu, tidak mau menunjukkan kebolehannya.. Lain waktu kalau kami kesana lagi, kau mainkan piano untuk kami ya cantik..

Usai sudah perjalanan kami sepanjang hari itu di Garut, mengunjungi adik-adik dan saudara Thalassaemia kami. Puas, senang, haru dan bahagia, semua rasa jadi satu... Sungguh suatu kebahagiaan kami yang tiada tara... Inilah sebuah kebahagiaan sesungguhnya, yaitu saat kami dapat berbagi kepada sesama yang membutuhkan.

Mungkin kami hanya sebagian kecil dari penghapus deritamu... Selebihnya, kalian yang harus kua
t dan tabah menjalani semua ini. Karena hanya dengan kuat, tabah serta bersyukur, hidup kalian menjadi lebih bermakna. Kami hanya dapat mendukung melalui doa, agar Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan kelancaran dalam hal apapun yang kalian hadapi...
Kini, kami adalah sahabatmu... Dan sebagai sahabat, kami akan melakukan apa yang menjadi bagian kami, menjaga agar tidak semakin banyak sahabat lainnya yang menderita Thalassaemia, melainkan semakin banyak sahabat yang dapat mendukung dan meringankan beban kalian, adik-adik, saudara kami, baik di Garut, dan dimanapun berada.

Sampai berjumpa lagi Sahabat Thalassaemia kami di Garut.. Kelak kami datang, ingin tetap melihat senyum, semangat dan keberhasilan kalian dalam hal apapun yang kalian lakukan....

Kami adalah Sahabat Thalassaemia Indonesia..!!

Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kami berikan kepada :
Seluruh pengurus POPTI Garut, pengurus RSUD Dr. Selamet - Garut dan UTD PMI Garut
atas kepedulian dan jiwa kalian yang tulus,
yang senantiasa mendukung Sahabat Thalassaemia dan menjadikan hidup mereka penuh arti....
Mari kita satukan langkah kita untuk mencegah Thalassaemia agar tidak semakin meluas... dan terus berikan semangat dan motivasi bagi para penderita serta orang tua Thalassaemia dimanapun berada...Tuhan senantiasa memberkati kita.
Amin

Senin, 12 April 2010

Kalian..sumber inspirasi, motivasi dan semangat kami, Dik..

"Wah adik pintar ya… Bisa menari.. bisa nge-band juga... ”
”Kakak juga cantik deh..”
”Kakak bajunya baguuus...”
”Zeina sayang kakak Cinta Laura (nama asli : Laura, namun dipanggil Cinta Laura)”, “Kakak sayang Zeina kan..?”
”Aku nge-fans sama Afgan..”, ujar Zeina.
”Kalau pacar aku namanya Aldi, teman sekelas aku..”, tutur Yutika dengan wajah sumringah.


Berbagai ungkapan tersebut diatas senantiasa mengisi hari-hari kami di setiap pertemuan kami dengan mereka. Ada Puteri.., Monika, Zaena, Haifa, Yutika dan Faiza.. mereka adalah adik-adik kami yang mempunyai keunikan (Down Syndrome). Kami senang sekali bisa memiliki kesempatan untuk menari (kolaborasi) dengan mereka untuk sebuah acara HUT perusahaan kami pada tanggal 05 April 2010 yang lalu.

Awalnya kami ragu, karena dengan waktu yang singkat (kurang dari 2 minggu saja), kami harus menyiapkan sebuah performance tari yang baik, mengingat kami yang juga tetap harus melakukan pekerjaan rutin sehari-hari, dan yang terpenting lagi, adik-adik kami harus tetap dijaga dan diperhatikan kesehatannya.

Namun dengan satu keyakinan bahwa kami mampu dan bisa, kami menyatukan hati untuk terus maju, berlatih dengan semampu kami. Satu hal yang tak kami duga, sejak latihan kami yang pertama, kami ”takjub” dengan semangat adik-adik kami. Mereka mengikuti latihan dengan serius. Walau diulang beberapa kali, mereka tetap mengikuti dengan baik, tanpa mengeluh sedikitpun. Kami salut kepada kalian, dik...

Hari demi hari kami lalui bersama... Walaupun kami hanya empat kali latihan bersama mereka.. namun rasanya hati kami sudah sangat dekat dengan mereka. Tak hanya salut dengan adik-adik, juga dengan para orang tuanya, yang senantiasa hadir dengan setia menemani anak-anaknya berlatih. Sungguh orang tua yang luar biasa..!! Semangat dan kasih sayang kalian sungguh tiada taranya.
Mereka anak-anak yang pintar dan baik. Puteri.., salah satu adik kami, dia sayang sekali dengan mamanya.. sempat aku mendengar di suatu kesempatan, saat Puteri dibantu oleh mamanya memakaikan baju menari, sang mama memuji Puteri, ”Puteri cantik deh..”. Dan Puteri membalas.., ”Aaah..mama...Puteri sayang mamaa..”. Woow..sungguh luar biasa..ungkapan yang tulus dari Puteri dan sang mama ini membuat aku haru... hiks..


Haifa, yang sangat enerjik...dia lucu dan paling bersemangat diantara yang lainnya. Namun dia juga sensitif..mudah senang dan mudah sedih.. Dia juga sangat sayang mamanya. Semangatnya akan sedikit menurun bila sang mama tidak hadir menemaninya. ”Haifa kangen mamaaa..”, itulah kata-kata yang sering diucapkan sembari menangis. Namun Haifa juga terlihat sebagai anak yang mandiri, terlihat dari caranya memimpin doa kami, di setiap kami akan mulai latihan menari.


Dan Zeina, dia anak yang sangat mandiri dan dewasa.. dari beberapa kali latihan, dia yang paling jarang diantar oleh sang mama. Tapi semangatnya tidak kendur..tetap berlatih secara profesional.. bahkan seringkali dia mengingatkan teman-temannya bila nakal dan tidak berlatih dengan baik. Dia pandai ber’internet’, karena dia pernah memberiku alamat email-nya (tapi maaf ya Zeina, kakak belum sempat mengirim email kepadamu... ). Dia dekat sekali dengan salah satu teman kami, bernama Laura, namun dinamakannya Cinta Laura (mungkin mirip dengan Cinta Laura..? hehe ). Dia sempat beberapa kali memberikan surat kecil kepada Laura, yang berisi ungkapan kasih sayang diantara mereka.
Sungguh mengharukan....

Monika, Yutika, Faiza, kalian juga sungguh luar biasa... Kalian berlatih tanpa rasa lelah, terkadang kalian berlatih masih mengenakan pakaian sekolah.

Akhirnya saat pentas pun tiba, kami sudah mulai berkumpul sejak pukul 05.00 pagi. Waktu yang sedemikian pagi tak menghalangi kami untuk tetap menampilkan tarian yang terbaik. Para mama pun telah siap membantu mengenakan pakaian dan berbagai aksesoris tarian bali ke adik-adik kami. Duuh...cantiknya kalian.. dengan berbalutkan kain warna kuning menyala dengan megah-nya. Kalian bak putri kerajaan...

Akhirnya.., pukul 07.30 tepat, kami ber-enam (aku, Laura, Rebekka, Citra, Ovi dan Seanne) dan 6 adik kami, siap menunjukkan aksi kami ”Tari Pendet” yang menawan. Tak sedikit pun terlihat grogi (demam panggung) di wajah adik-adik kami, tidak seperti yang kami rasakan saat itu. Wah..malunyaa.., masa kalah sama adik-adik..? hehe...

Dan seperti biasa, setiap kami akan berlatih, dan demikian pula sesaat sebelum pentas, kami berdoa bersama, dan diakhiri dengan menyerukan yel-yel sambil mengepal dan menyatukan tangan kami, ”Kami pasti bisa.., YESS!! ”. Semangat itulah yang menghantarkan kami pada suatu keyakinan bahwa kami pasti BISA !

Gerakan demi gerakan kami tarikan.. dan tepuk tangan serta riuh suara pujian penonton sungguh membuat keraguan, ketakutan, kekuatiran kami selama ini sirnalah sudah.... Yang ada hanyalah kepuasan kami..kebanggan kami..kepada mereka, adik-adik kami yang hebat.. yang telah membuat kami semua menjadi ”HEBAT” saat itu.



Terima kasih adik-adikku.. keunikan kalian dan kebersamaan bersama kalian dalam beberapa hari saja, telah membuat kami semakin mengerti akan arti cinta kasih dan ketulusan, semangat hidup, perjuangan dan pengorbanan. Kalian adalah penari profesional yang sesungguhnya..,


kalian ISTIMEWA..baik di mata kami, di mata kedua orang tuamu, keluargamu dan di mata Tuhan, dan kalian...adalah sumber inspirasi, motivasi dan semangat kami...


Sampai bertemu lagi adik-adikku, di lain kesempatan. Jangan lupakan persahabatan kita ya...

Tuhan memberkati kita semua...
Amin.

Senin, 18 Januari 2010

Makna "Ulang Tahun" Untukku...

Tulisan ini sengaja aku buat, bukan untuk “gaya-gayaan” atau “norak biar terkesan banyak yang mengucapkan selamat”, tapi dari hati yang paling dalam, sebagai wujud terima kasih ku atas ucapan dan doa kalian untukku... yang secara pribadi dan teristimewa ingin kusampaikan kepada kalian….

Nuhun sewu sanget or thanks so much or sie-sie untuk :
Mamaku tercinta, Lany-ciciku yang baikss (sering kasih kado, hehe..), Sandy-suamiku (mana kadonya..?? hihi…), Dessi Saraswaty (sms mu sms pertama yang kuterima di hari ini Des, selain dari Sandy.. ^_^ ), Koko Suriandi, Carla, Ricky Agustinus, Andre Ck, Umbo Karundeng, P Alam, Rony Wijaya, Herronita, Erwin Sofianto, Richard Gunawan, Fiona Lestari, P Agus Suharto, P Andreas, Yenni Yulianti, Melissa Chaniago, Meiny, Arwan Hidayat, Dee Aisah, Esti Praptiwi, Tyo, Lucy Aprilia, Karol Purba, Herman Salim, Rony Hendra, Poernama, Aryo Seno, Hermawan, Siska Sulistio, Helena Helen, Diana Leo, Lis Sien, Jaya, Deanne, Yenny Lesmana, Waasi S, Michelle, Yenny Gunawan, Devi, Ci Linda, Santoso, Khrisna Maharani, Mba Clara, Erni Yulianti, Netty, Yan Arianto, Novita Tueno, Indra Gunawan, Ririe, Timotius Talip, Handian, P Tikki, Zaenal, Bu Asti, Mba Grace, Mba Wiwin, Sandra, Mba Zia, Andre, Citra, Mba Debby, Mba Novi, P Alfa, Yohannes, Rinny, Budi Raharjo, Ci Liana, Martinus Teja, semua teman-teman GA dan Legal di Lantai 16 dan teman-teman lain yang mungkin belum kesebut (maap yah)…

Kata orang-orang saat ber-Ulang Tahun adalah saat yang membahagiakan..identik dengan suatu syukuran, perayaan, ucapan, hadiah, kebersamaan dsb.
Namun bagiku, dengan bertambahnya usiaku, aku justru malu dan takut menghadapi hari Ulang Tahun. Karena hari itu menggenapkan bertambahnya usia kita satu tahun dan langsung membawa pikiran ini ke cita-cita yang masih banyak belum terwujud. Sedih karena belum dapat berbuat apa-apa yang membahagiakan keluarga dan orang lain. Yah.. persepsi orang pasti berbeda satu sama lain, dalam menanggapi hari Ulang Tahun dan maknanya.

......

Sehari sebelum aku berulang tahun, aku terpeleset di halaman rumahku, karena lantai sangat licin akibat hujan yang kian turun berhari-hari. Tak berapa sakit sih, tapi sempat membuat jam tangan kesayanganku pecah kaca dalamnya, hiks.. Semoga itu bukanlah pertanda apa-apa bagiku. Namun suatu hal yang pasti, itu membuat mamaku kuatir akan keadaanku. Ada satu kisah lucu, dimana sesampainya aku di toko (hari Minggu jatahnya aku jaga toko – tidak di kantor), mamaku menelepon aku (melalui suster) hanya untuk menanyakan berapa nomor telepon rumah ku (rumah mertua sih... J ), karena esok pagi mama mau menelepon aku ’tuk mengucapkan selamat ulang tahun sebelum aku berangkat kantor, katanya. Sambil tertawa kecil, aku mengatakan kepada suster untuk menyampaikan ke mamaku, kalau besok telepon aku di handphone saja.

Dan pagi ini, tepat sebelum aku berangkat kantor, handphone aku berdering, dan mamaku orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Dengan suaranya yang agak terbata-bata (memang mamaku agak kurang jelas kalau berbicara, serasa berat.. dan bercampur dengan rasa haru sepertinya). Sebelum mengucapkan selamat ulang tahun, dia kembali menanyakan bagaimana kondisi aku akibat terpeleset kemarin. Ucapan selamat ulang tahun dari mamaku biasa saja (standard lah..), namun yang membuat aku haru adalah caranya yang lucu, menanyakan nomor telepon aku ke diriku sendiri, untuk mengucapkan sesuatu kepada aku juga. Note : Mamaku sudah sulit mengingat hari ulang tahun anak-anaknya. Terkadang aku dan kakak ku harus saling mengingatkan mama kapan kita masing-masing berulang tahun. Makasih ma untuk perhatian dan kasih sayangmu kepadaku...

Hal lucu lain adalah ulah kakak ku yang memajukan hari ulang tahunku. Sehari sebelumnya dia mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku lewat sms. Dan dia jadi malu ketika aku memberitahunya bahwa ulang tahun aku besok bukan hari ini. Dia mengatakan ”koq bisa ya, dari kemarin-kemarin koq gue ingetnya loe ultah tuh hari minggu, makanya gue buru-buru cari kado, karena takut ga keburu beli dan ketemu loe di rumah mama”. Note : Jadi, aku dan kakak ku jarang bertemu, sekali seminggu saja, itu pun belum tentu bertemu muka. Terkadang, kami hanya bertitip salam atau barang di rumah mama (tempat pertemuan kami). Niat kakak ku untuk menyiapkan hadiah buat aku, seakan tidak ingin terlewatkan hari ultahku, sungguh telah membuat aku haru. Bahkan hadiah yang dititipkannya di rumah belum aku ambil hingga hari ini.

Ucapan lainnya datang dari sms, email dan telepon. Namun yang baru aku alami selama aku berulang tahun, adalah ucapan via Facebook. Sepertinya ucapan via Facebook ini sudah menjadi trend saat ini. Memang terkesan standard, kurang personal, karena ucapan ini relatif dapat dilihat orang lain (dari wall atau profil kita). Namun aku sangat bersyukur punya teman-teman di Facebook (baik yang sudah kukenal sejak lama maupun baru, bahkan belum pernah mengenal wajah), dan dengan berbagai ucapannya. Kalau kata banyak orang, Facebook itu ”nora”, seperti ”orang kurang kerjaan’, ”narsis” dsb. Tapi hal positif yang aku amati dari Facebook (terkait dengan ”Birthday”), Facebook dapat menjadi media ”reminder” kita akan teman kita yang berulang tahun. Karena dengan adanya informasi si ”A” berulang tahun hari ini, kita mengucapkan selamat kepada si ”A” (yang sebelumnya mungkin bahkan lupa mengucapkan). Dan yang semula kita tidak tahu kalau si ”A” berulang tahun, kita jadi tahu dan turut mengucapkan pula (walaupun mungkin bertemu saja belum pernah). So... hidup Facebook !!

Ucapan lainnya tentu dari teman-teman sekantor.. seperti biasa, kebiasaan di lantai tempat aku bekerja, bila ada yang berulang tahun, kita ramai-ramaikan bersama... Sebenarnya aku sangat malu dengan suasana ramai seperti itu, tapi yah..setahun sekali, aku terima dengan senang hati.. Itu tandanya, teman-teman masih perhatian sama aku.. ya kan..?

Akhir kata, walau bertambah usiaku, berkerut wajahku, bahkan memuth rambutku, harapku ’tak kan mengendurkan semangatku untuk terus berkarya dan mengejar mimpi-mimpiku.. dengan dukungan kalian (keluarga dan sahabat-sahabatku), dan berkat Tuhan Yesus, aku yakin BISA (menenangkan diri sendiri.com)

Cheers,

Sabtu, 02 Januari 2010

Nikmatnya Saat Sebuah Impian Terwujud...

Sudah dari beberapa bulan yang lalu, sejak baksos kami ke-4, kami merencanakan untuk mengunjungi anak-anak penderita kanker. Namun karena satu dan lain hal, keinginan itu belum dapat terwujud. Hingga akhirnya kami berkomitmen dari jauh-jauh hari kami sudah harus mempersiapkan rencana kami, yaitu pergi mengunjungi anak-anak penderita kanker, entah dimana saja tempatnya. Kami pun mulai searching internet untuk mengetahui berbagai informasi tentang yayasan atau rumah sakit yang menampung anak-anak penderita kanker. Akhirnya kami mendapatkan informasi itu dan memutuskan untuk survey ke sebuah rumah, yang konon katanya merupakan rumah tinggal sementara/ singgah anak-anak penderita kanker beserta orang tuanya, selama masa pengobatan rumah sakit, namanya ”Rumah Kita”.

Begitu kami menapakkan kaki di Rumah Kita, kami langsung ”jatuh hati” dan keinginan kami bukan lagi sebuah keinginan namun sudah menjadi hasrat dan impian, untuk mengunjungi dan menghibur anak-anak disana. Kami survey ke Rumah Kita pada pertengahan bulan November dan rencana akan mengunjungi mereka pada bulan Desember, tepatnya tanggal 19 Desember 2009 (seperti tahun lalu, kami juga melakukan baksos di bulan menjelang perayaan Natal).
Dilingkupi rasa bahagia karena impian kami hampir terwujud, kami pun begitu semangat mulai merencanakan hal-hal apa saja yang akan kami lakukan dan berikan untuk mereka. Kami ingin memberikan yang terbaik. Rencana belanja dan target dana pun sudah di depan mata. Sempat membuat kami kaget setelah kami selesai menghitung, karena ternyata lumayan besar juga dana yang harus kami cari dan kumpulkan. Tapi kami tak patah semangat, kami terus berjuang demi adik-adik kami. Dibandingkan dengan penderitaan mereka, upaya dan tenaga kami mungkin belum berarti apa-apa.

Rencana baksos kami ke-6 di Rumah Kita ini sempat terancam batal, karena ternyata pada tanggal 19 Desember, waktu yang kami rencanakan untuk berkunjung, sudah ada yang booking untuk kunjungan juga. Kami diminta menunggu 2-3 hari untuk dikonfirmasi lebih lanjut. Tapi kami tetap melanjutkan usaha kami untuk mengumpulkan dana, sambil tetap berharap dan berdoa agar kami dapat kesana bulan Desember ini.
Setelah menunggu beberapa lama, kabar baik pun datang.. Yipiie...horee...senangnya, akhirnya pihak yang sudah membook terlebih dahulu membatalkan kunjungannya, sehingga kami dapat mengisi waktu tersebut. Puji Tuhan, alhamdulilah, impian kami semakin dekat..! J

Email, Sms, BBM, berupa ajakan ke teman-teman, saudara, sahabat, kami lakukan dengan gencarnya, tanpa merasa lelah dan malu J, agar semakin banyak yang dapat kami berikan untuk anak-anak disana. Karena kami sadar, kami tak dapat melakukan sendiri, tapi dengan bersama, kami semakin kuat dan dapat menolong mereka yang membutuhkan dengan lebih baik lagi.

Seminggu, dua minggu, nyaris sebulan, jumlah dana yang terkumpul masih belum cukup dari yang kami targetkan. Ditambah lagi dengan beban mental bahwa jumlah anak yang akan hadir saat kunjungan kami nanti akan lebih banyak dari yang dikonfirmasikan sebelumnya. Karena ternyata Pihak Yayasan ingin mengundang beberapa anak penderita kanker lainnya dari beberapa Rumah Sakit di Jakarta. Senang sih.. tapi kami sempat cemas bila kami tidak dapat menyenangkan anak-anak seperti yang mereka harapkan. Namun, kami tak putus asa, kami berusaha lagi menghubungi teman-teman, saudara, sekedar mengingatkan, kemudian meminta mereka mengajak teman-teman atau saudara lainnya, siapa saja lah yang ingin turut berpartisipasi..J. Dan... Tuhan memang sungguh baik, melalui teman-teman kami, dana yang terkumpul sedikit demi sedikit terus bertambah. Bahkan hingga saat kami sudah membelanjakan untuk sumbangan, dana itu terus berdatangan. Dari jumlah dana yang kami targetkan, kami sudah mendapat dua kali lipat ! Senang, haru dan bahagia kami rasakan saat itu.

Jumat, 18 Desember 2009

Lain seperti beberapa baksos yang kami lakukan sebelumnya, biasanya kami belanja dan mempersiapkan segala sesuatunya seminggu sebelum acara. Namun kali ini, karena kesibukan kami masing-masing, maka kami putuskan untuk belanja di hari libur (kebetulan ada hari libur pada H-1). Walaupun kami hanyalah beberapa orang perempuan, namun demi impian kami dan amanah dari para donatur yang telah menyumbang, kami pun belanja dengan penuh semangat, berkeliling-keliling ITC Kuningan, dari pkl. 10.00 pagi s.d 18.00 sore. Untunglah lokasi belanja dekat dengan base camp kami, sehingga kami dapat bolak-balik menaruh barang-barang. Banyak sekali barang yang kami belanjakan saat itu. Yah..serasa jadi kuli sehari gitu deh..

Sabtu, 19 Desember 2009

Pukul 12.30 kami berangkat dari Kuningan menuju Rumah Kita, di Jl. Percetakan Negara IX No. 3, Jak-Pus, dengan mengendarai 1 mobil dan 2 Taxi.
Kami tiba di lokasi 30 menit lebih awal dari yang kami rencanakan, karena jalan yang kami perkirakan macet ternyata cukup lancar. Begitu sampai, kami langsung merapikan semua barang sumbangan yang kami bawa untuk diberikan ke Rumah Kita. Sementara goodie bag kami bagikan langsung kepada anak-anak.
Waaahh..anak-anak sudah ada yang berkumpul, sepertinya mereka sudah siap dengan kedatangan kami. Perasaan senang bercampur bingung, apa yang harus kami lakukan ya.. karena Mas Dodo – si tukang sulap yang juga kami undang untuk memeriahkan acara baru 1 jam lagi tiba. Yaah.. kami tak boleh menyerah...kami sudah datang disana dan bertemu dengan anak-anak adalah kerinduan kami, maka kami mulai berbaur dengan anak-anak, setelah kami menyerahkan sumbangan kepada koordinator Yayasan Kasih Anak Kanker Indonesia (YKAKI) – Ibu Inggrid.

Acara dimulai dengan acara perkenalan sekaligus membagikan goodie bag ke setiap anak yang hadir. Saat itu +/- 20 anak hadir beserta orang tuanya. Sementara +/- 5 anak lainnya tidak dapat hadir karena tiba-tiba harus dirawat di Rumah Sakit dan ada yang harus pulang ke kampung halaman, karena orang tuanya sakit.
Setelah acara perkenalan, anak-anak diminta untuk unjuk kebolehan, menyanyi, menari dan bercerita. Mereka anak-anak yang lucu, pintar dan penuh semangat. Tak terlihat sedikit pun mereka menderita ataupun lemah, yang terlihat hanyalah senyum dan tawa bahagia mereka.

Beginilah suasana kami bersama anak-anak dan beberapa orang tuanya di Rumah Kita. Puaslah hati kami dan nikmat rasanya..., melihat mereka tersenyum dan tertawa riang gembira saat itu. Sepertinya mereka tidak lagi merasakan sakit yang mereka derita. Senyum dan tawa kalian, sungguh kebahagiaan bagi orang tuamu dan kami, Dik... Semoga kakak-kakak dimanapun mereka berada terus ada di tengah-tengah kalian, senantiasa menemani hari-hari kalian sampai saat kesembuhanmu tiba...

Kami doakan agar Tuhan senantiasa memberkatimu dan memberikan mujizatNya untuk kesembuhan atas penyakitmu.
Tetap sabar dan semangat yah Dik... ! Amin.

~ The Cherish Club ~